Hari ini, tanggal 29 Maret 2012.
Dan hari ini adalah hari dimana umur saya bertambah secara resmi, hari dimana 27 tahun yang lalu seorang anak yang belakangan dinamai Hapsara Soma Adhi Sasangka telah lahir ke dunia dengan diawali tangisan cemprengnya.
Dan sekarang, anak itu telah tumbuh menjadi seorang pemuda yang luar biasa tampan dan rupawan, kata saya. Dan sayangnya pernyataan yang saya buat tersebut disangkal oleh hampir semua orang yang mendengarnya, yah, kecuali satu orang teman saya yang sebelumnya saya sogok Rp. 20.000 dan semangkuk mie ayam. Kembali ke pokok masalah. Di usia yang sekitar seperempat abad lebih ini, manusia-manusia pada umumnya rata-rata sudah mempunyai keluarga, menikah maksudnya. Dan sebagian juga ada yang belum, seperti saya contohnya.
Banyak alasan-alasan yang mendasari seorang laki-laki untuk tidak atau belum menikah di usia seperti saya. Belum ingin terikat, masih ingin sendiri, masih ingin berfoya-foya. Percayalah, jika ada seorang pria yang mempunyai alasan yang saya sebutkan tadi itu adalah alasan klise. Lagu lama. Itu bukan alasan mereka, mereka hanya beralasan seperti itu hanya karena mereka masih mementingkan harga diri, sehingga alasan tersebut terucap.
Bagi laki-laki yang sudah mapan, dalam arti sudah mempunyai pekerjaan, tempat tinggal, dan kendaraan, setidaknya tiga faktor itulah yang menjadi standar sukses bagi pria-pria Indonesia, sangatlah tidak lengkap jika tidak ada seorang pendamping baginya untuk menjalani hidup. Ketiga faktor itu rasanya menjadi tidak ada gunanya jika tidak mempunyai pasangan. Maksudnya, apa sieh yang loe cari lagi???
Continue reading ‘Cuap2 29 Maret 2012′
Cuap2 29 Maret 2012
•April 8, 2012 • Leave a CommentIndustri Rokok di Negara Berkembang
•April 8, 2012 • 1 Comment Sebelum membaca artikel ini, harap mempersiapkan diri anda, karena topik yang dibahas disini agak berat, oleh karena itu, disarankan agar membawa serta teman anda untuk membantu mengangkatnya.
Penting atau tidak bagi anda, saya akan menginformasikan kepada khalayak ramai bawa saya telah berhenti merokok untuk (kalo bisa) selama-lamanya. Kenapakah? Apakah saya sudah bosan? Sudah kenyang?
Sekitar seminggu yang lalu saya mendapatkan sebuah video Youtube yang berasal dari akun Facebook teman saya, saya lupa judulnya, tapi sudah saya link di status saya kemarin. Yang jelas video ini bercerita tentang sebuah riset yang dilakukan oleh wartawan Amerika Serikat tentang industri rokok di negara-negara berkembang, dan yang dibahas disini adalah Indonesia. Kesimpulan yang bisa saya ambil dari video yang berduarsi sekitar 40 menit itu adalah, tragis. Kenapakah? Okeh, saya akan coba ceritakan sebab musababnya kenapa saya berkata seperti itu.
Continue reading ‘Industri Rokok di Negara Berkembang’
Kasembon Rafting
•February 11, 2012 • 2 CommentsAkhirnya setelah punya mainan baru, saya bisa bermain dengan kata-kata lagi. Untuk mainan baru ini, akan saya ceritakan di sesi yang berbeda. Ada satu cerita yang dari 3 minggu kemaren sebenarnya saya pengen cerita banget, tapi waktu itu, laptop yang lama saya lagi error parah, oleh sebab itu tertunda deh.
Batu adalah kota wisata, yang mana tempat wisatanya sendiri menyebar ke berbagai tempat di kota itu, baik wisata siang hari, malam hari, ataupun wisata kuliner. Tetapi ada satu tempat wisata yang sport ekstrim di daerah Kasembon, yaitu Rafting atau arung jeram.
Kasembon sendiri terletak di sebelah Barat Batu, yang berjarak sekitar 100 kilometer, cukup jauh memang. Berada diantara Batu dan Kediri, dengan perjalanan yang memotong gunung, berliuk-liuk seperti ular naga panjangnya, dan perjalanan yang bisa menempuh kurang lebih 2 setengah jam menuju kesana, tak heran emak saya mabok, hehehe!
Ide dimulai saat kita sekeluarga menyayur di rumah tanpa ada kegiatan satupun, akhirnya terbersit di benak adik saya agar melakukan aktivitas yang sedikit ekstrim, Rafting.
Continue reading ‘Kasembon Rafting’
Tempat Nongkrong Anak Bontang
•January 22, 2012 • Leave a CommentNB: Foto diambil dari http://kaffah4829.wordpress.com
Bagi kebanyakan anak-anak Bontang, khususnya anak VIDATRA, lebih khusus lagi, di jaman saya dahulu, di awal tahun 2000-an, nongkrong bersama teman adalah hal yang paling mengasyikan untuk menghabiskan malam minggu. Setelah saya mengenal Jakarta, dan kehidupan kota-kota di Jawa pada umumnya, saya baru menyadari bahwa Bontang adalah salah satu kota kecil yang minim tempat nongkrong. Tapi alasan itu tidak menutup kemungkinan bahwa anak-anak tersebut tak kehilangan akal, dan tetap mencari lokasi favorit untuk nongkrong dan menghabiskan waktu bersama teman-teman. Naah, pada tulisan ini saya akan menjabarkan lokasi-lokasi yang dianggap cukup populer di jaman itu. Bagi para pembaca yang belum pernah ke Bontang, mohon maaf, karena tempat-tempat ini mungkin hanya penghuni Bontang saja yang mengetahuinya.
1. MARINA
Saya tempatkan lokasi ini di urutan pertama, karena ini adalah tempat nongkrong wajib anak-anak Bontang pada waktu itu. Marina adalah sebuah tempat yang berdekatan dengan pelabuhan khusus kapal LNG, tempat ini berbatasan langsung dengan laut. Sepanjang jalan sekitar 300 meteran itu, pada malam minggu di pinggir jalan penuh dengan anak muda. Menikmati semilir angin laut, aroma air laut, dan keramaiannya membuat lokasi ini tak pernah sepi. Walaupun tidak nongkrong, tetapi paling tidak mereka memutari Marina. Seperti tidak malam minggu kalau tidak mampir kesitu. Dan disinilah, menjadi tempat ajang pamer kendaraan, baik itu motor atau mobil, dan juga ajang mencari cewek. Tapi sayang, sekitar tahun 2004, tempat ini telah ditutup untuk umum. Dari isu yang menyebar, Marina ini ditutup karena ada bahaya akan Buaya Muara yang sering terlihat di laut sekitar situ. Akan tetapi, 18 tahun saya tinggal di Bontang, saya belum pernah melihat buaya satupun disitu. Kalo buaya darat mah sering. Alasan lain juga mengemukakan bahwa tempat itu menjadi ajang buaya darat dalam memamerkan aksinya. Tempat mojok istilahnya.
Tapi alasan utama adalah, Ship & Shore Facility Security. Aturan yang mengatur tentang dilarangnya area umum di sekitar pabrik, untuk alasan keselamatan. Oleh sebab itu, perumahan Delta, Commisarry, juga diratakan dengan tanah, karena tidak diperbolehkan bertempat tinggal di sekitar pabrik. Sungguh hal yang mengecewakan bagi anak-anak sekarang.
Continue reading ‘Tempat Nongkrong Anak Bontang’
Rasa Yang Terpendam
•October 28, 2011 • 1 CommentRASA YANG TERPENDAM
Oleh: H.S.A.S.
Pada saat jam istirahat berlangsung, aku hanya duduk sendirian di mejaku. Suatu kebiasaan yang biasa kulakukan saat uang jajanku habis. Melakukan kegiatan apapun selain belajar. Pelajaran SMA kelas 2 memang sedikit banyak menguras tenaga otakku yang tak pintar ini. Kadang mencoret-coret halaman belakang bukuku, atau mendengarkan musik dari walkman yang diam-diam kubawa ke sekolah, karena membawa walkman memang dilarang di sekolahku. Tapi hari itu aku hanya ingin melamun saja. Tidak berpikir, tidak fokus, dan hanya memandang kosong ke arah papan tulis. Saat pikiranku sedang melayang entah kemana, tiba-tiba aku menyadari bahwa ada seorang cewek yang juga duduk di kelas, dan dia duduk tepat di meja depanku.
Hanis Raspputiadi namanya.
Dia adalah salah satu sahabat baikku. Seseungguhnya aku sudah mengetahui dia sejak masuk SD, karena memang kita terus menerus satu sekolahan sejak SD. Tapi aku mulai mengenal baik dia saat kelas dua, karena kita sekelas, dan kebetulan juga dia duduk tepat di depanku. Sering aku ke rumahnya untuk mengerjakan PR, hmmm, mungkin lebih tepat dibilang menyalin. Saat di kelas pun begitu, kita sering bercanda lepas dan mengerjakan tugas bersama. Pernah aku kepergok sedang menyanyi diam-diam, dan ternyata dia mendengar, ditertawakannya aku karena dia mendengar suaraku yang seperti suara knalpot. Sungguh malu waktu itu.
Kulihat sosoknya dari belakang, dan yang terlihat hanya rambut hitamnya yang lurus dan panjang, dihiasi dengan sedikit uban putih yang terlihat jelas jika dilihat dari dekat. Rambut putih itulah bahan ejekan yang biasa aku lontarkan ke dia.
“Nis, kamu agak putihan deh hari ini ya?”
“Ah,masa sieh, Dhi?” tanyanya sambil tersenyum merona.
“iya bener deh. Ubannya…”
“Arrrrgghhhhhh, dasaaaaar Adhiiiiii!!!!!!!”
Teriaknya sambil melempar buku yang ada di mejanya. Dan akupun terbahak-bahak, dan tiba-tiba berhenti setelah ujung buku yang dia lempar mengenai jidatku. Dan saat pulang ke rumah dia telah mengoleh-olehi aku dengan sedikit lecet yang membekas di jidat.
Tapi senyumnya telah membekas lebih dalam di hatiku.
Continue reading ‘Rasa Yang Terpendam’
Puisi Terindah
•October 28, 2011 • Leave a CommentSalah satu puisi yang terindah yang pernah saya baca. Puisi ini saya dapatkan di salah satu buku. Disitu diceritakan penulisnya adalah seorang wanita di Timur Tengah pada sekitar tahun 1900-an, namanya saya lupa, tapi puisi yang bercerita tentang hubungan manusia dengan Tuhan ini luar biasa.
Tuhan,
Apapun yang Kau peruntukkan bagiku dari dunia ini,
Berikanlah itu kepada musuh-Mu
Apapun yang Kau peruntukkan bagi ku dari dunia yang akan datang,
Berikanlah itu kepada karib-Mu
Bagiku, Engkau saja cukuplah
Tuhan,
Bila aku menyembah-Mu karena takut akan neraka,
Bakarlah aku di neraka itu
Bila aku menyembah-Mu hanya demi hadiah surga,
Kuncilah aku dari surga
Tapi bila aku menyembah-Mu demi Engkau sendiri,
Jangan jauhkan aku dari keindahan-Mu nan abadi
Jatim Park 2: My Journey
•March 19, 2011 • 4 CommentsHari ini saya bangun agak pagi, karena mata udah ngga mau merem lagi, walau dipaksa sekalipun, padahal badan masih pegel-pegel gara-gara main badminton kemaren lusa. Setelah itu saya memutuskan untuk mandi pagi-pagi (jam 10 termasuk pagi ngga sieh?). Karena adek saya sudah pulang dari sekolahnya, saya putuskan untuk minggat dari rumah dengan mengajak adek saya. Kemana?
Rumah saya di Batu ini termasuk strategis untuk tempat pariwisata, seperti Sengkaling, Batu Night Spectaculer, Jatim Park, Jatim Park 2 dan masih banyak lagi. Hari ini saya putuskan menuju Jatim Park 2, atau yang lebih dikenal sebagai museum satwa. Saya kesini karena selain tempat ini baru berdiri (sekitar tahun lalu kalau ngga salah), tempat ini juga sangat dekat dari rumah, perjalanan yang saya tempuh naik motor kira-kira cuma 5 menit. Dekat bukan? Continue reading ‘Jatim Park 2: My Journey’


