ga penting 2

Saya mungkin dan memang bukan orang yang pandai berkata-kata dalam berbicara, atau pandai dalam mengungkapkan sesuatu, maupun mengajak seseorang sehingga mau setuju atau sekedar tertarik dengan saya. Tak pernah sedikitpun saya mau diajak untuk berbicara di depan umum, selain karena minder, saya juga bukan tipe orang yang suka dengan keramaian, atau suka berbicara, remeh temeh dan lain sebagainya.
Tulisan ini saya buat hanya sekedar kumpulan huruf, yang menjadi kata, dan dibentuk menjadi suatu kalimat yang ada di kepala, dan hanya mengalir..
Ya, mengalir saja.
Tanpa struktur atau bentuk, seperti kesimpulan, tema, pokok, sub-pokok dan lain sebagainya. Dan ditulis disela-sela waktu senggang, dalam pikiran yang stress, penuh, dan meminta media lain untuk menampung sebagian dari isi-isi, yang mungkin juga tak sepenuhnya bagus.
Kenapa ya, semua orang-orang pintar dinegeri ini seperti dibungkam, menghilang entah kemana. Sekarang, tahun 2010, 65 tahun Indonesia merdeka, ya segini-segini aja, tampak tak berubah dari segi kualitas manusianya. Kualitas mental dan moralnya. Indonesia masih tetap korupsi, masih tetap inflasi, masih tetap berkutat pada kemiskinan. Kemana semua orang-orang pintar di negeri ini? Orang-orang yang mampu merubah harkat dan derajat hidup orang Indonesia, tidak usahlah di mata internasional, bagus di mata kita sendiri saja sulit sekali.
Kemana semua lulusan-lulusan universitas? Ekonomi? Sos-Pol? Teknik? Buat apa semua jurusan itu kalau tidak pernah bisa membuat negara kita berubah. Apa yang mereka lakukan? Apa yang mereka pelajari? Tapi jangan pernah salahkan mereka.
Salahkan mental dan sifat apatis dari rakyat kita sendiri. Sediit saja kita ingin jujur dan melakukan semuanya dengan benar dan sesuai peraturan, hanya sekedar ingin saja, ‘mereka-mereka’ sudah berbicara tidak setuju. Buat apa, lebih baik seperti yang sudah-sudah saja, toh ngga ada masalah. Yang lebih parah lagi, kita sudah seperti dulu, seperti jaman batu. Yaitu menghormati dan mendewakan benda mati. Seonggok kertas kotak persegi panjang, yang terdapat gambar-gambar, angka, dan lambang negara kita ini. Biasa disebut dengan nama UANG. Hanya karena benda itu, orang rela menghilangkan hati nurani mereka, menghilangkan nyawa, dan ber’topeng’ hanya untuk bisa menikmati benda tersebut. Orang mau berbuat apa saja. Ternyata memang kita sudah menjadi budak uang, budak yang sekedar menginginkan kenikmatan diri sendiri, dari benda yang mereka ciptakan sendiri. Sungguh, mau jadi apa kita nanti?
Apakah hal-hal yang seperti ini yang bisa kita banggakan dari sosok Indonesia? Sudah tidak bisa dimengerti lagikah isi dari buku-buku suci mereka? menangislah para guru-guru, yang mungkin sekarang kita anggap tidak penting. Tapi alangkah mulianya mereka, menanamkan pendidikan, yang terpenting, pendidikan moral agar pada saat kita dewasa, kita dapat mempertanggungjawabkan apa yang kita lakukan. Betapa mereka sangat terpukul, mengetahui bahwa moral sudah sangat langka di negara ini. Moral menjadi objek kesekian di halaman terakhir otak mereka yang masih mereka ingat.

Advertisements

~ by tulishapsara on September 4, 2010.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: