LINGKARAN PERTAMA

Perjalanan hidupku, yang kulalui hingga sekarang tak lepas dari masa kecil, masa remaja, hingga masa sekarang. Masa-masa itu telah mengukir setiap lekuk ceruk di hati, membentuk bermacam-macam gambaran, setiap kejadian mempunyai arti dan melekat erat, setiap waktu yang dengan keegoisannya berlalu dan tak pernah sedikitpun untuk berputar kembali. Semua itu mempunyai arti, mempunyai makna dalam pembentukan jati diri saya, dalam masa sekarang, masa awal dewasa saya, dan menjadi pondasi yang saya rasa cukup kokoh untuk menjadi modal hidup saya dikemudian hari, mau menjadi apa saya, mau berbuat apa, dan siapa saya, itu adalah jalan yang masih misteri dan akan saya lewati dengan cara saya, yang telah saya pelajari dalam 25 tahun usia hidup saya.


Pada awal tahun 1983, di sebuah kota di Kalimantan Timur, yang bernama Bontang, sebuah kota kecil di awal pembangunannya sebagai salah satu penghasil gas terbesar di Indonesia. Seorang pemuda merantau dari kota asalnya, Salatiga, untuk mencari hidup yang lebih baik, biasa dipanggil dengan Mas Yon, bertemu dengan Rochmi, seorang gadis yang berumur kira-kira 19 tahun, yang ikut dengan kakaknya dari Batu, Malang, untuk merantau juga ke Bontang. Dan akhirnya pada tahun 1984, mereka menikah. Laurentius Suparyono dan Naomi Silachturochmi, mereka mengikat hubungan mereka di hadapan Tuhan, berjanji untuk sehidup semati. Dan pada Maret 1985, lahirlah seorang bayi mungil, anak pertama mereka yang diberi nama, Hapsara Soma Adhi Sasangka. Anak itu adalah anugerah terindah yang diberikan Tuhan kepada mereka, dan mereka sangat sayang kepada anak itu, dan pada akhirnya saya mengerti, kasih sayang mereka terhadap anak itu tak berkesudahan. Tanpa persetujuan Tuhan, mereka tak mungkin bertemu, tak saling cinta, dan yang pasti, saya yang adalah anak tersebut, tak pernah muncul di muka bumi ini. Dan mereka adalah orangtua saya. Orang tua yang sangat saya sayangi, saya banggakan. Takkan pernah habis kuucapkan rasa terimakasih, baik yang terucap, maupun yang tak terucap kepada mereka. cinta mereka tak terbalaskan kepada saya.
Kami dahulu bisa dibilang sangat berkesusahan. Ibu saya pernah bercerita, waktu saya masih bayi, ibu saya harus meminjam beras ke tetangga hanya untuk makan, karena tidak punya uang. Oleh karena itu, wajar saja sekarang saya berbadan kurus, yang makan sebanyak apapun tetap kurus kerempeng, karena waktu balita dulu, saya termasuk kekurangan gizi. Berbeda dengan adik-adik saya yang pada masa mereka, bapak dan ibu saya sudah berkecukupan. Nanti saya akan ceritakan mereka. karena ketelatenan bapak saya, akhirnya beliau bekerja di PT Badak, perusahaan yang dia tempati sampai beliau pensiun. Walaupun pada akhirnya berkecukupan, tapi jalan yang dilewati tak semudah itu. Bapak dan ibu harus benar-benar memanfaatkan uang dengan sebaik-baiknya, mereka sangat disiplin, dan mau berusaha. Dan benar saja, usaha mereka membuahkan hasil. Kata-kata yang paling saya ingat ketika bapak berbicara kepada saya, “kalau kerja itu harus jujur. Jujur ngga akan buat kamu cepat di promosi, ngga akan buat gaji kamu besar, tapi kamu harus tahu jujur itu baik. Dan banyak berdoa, karena Tuhan pasti mendengarmu..”. Sekarang saya mengerti, bahwa jujur itu sangat sulit dilakukan, tapi bapak saya memberi contoh nyata, bahwa beliau bisa bersikap seperti itu. Jujur, itu adalah tiang pancang utama dikeluarga kami, yang tidak dapat dirobohkan oleh apapun.
Saya tidak begitu ingat sekali dengan masa kecil saya, karena memang saya pada dasarnya pelupa. Foto-foto masa kecil juga tak begitu membantu untuk mengingatkan saya. Tapi akan saya coba untuk mengingat, dan menceritakannya. Pada tahun-tahun pertama saya lahir, saya sempat dibilang bisu, karena saya memang tak pernah mengeluarkan sepatah katapun, yang saya bisa hanya menangis dan mengucapkan suara seperti, “Trrrrrr….Trrrrr……” entah apa maksudnya itu, saya tidak tahu, dan itu masih menjadi misteri. Tapi pada akhirnya saya mulai berucap kata-kata, walaupun termasuk terlambat. Tidak heran kenapa saya jadi orang yang cukup pendiam. Pernyataan ini mungkin bisa sangat ditolak oleh sahabat-sahabat dekat saya, karena bagi mereka, mungkin saya berkebalikan dengan pernyataan itu. Tapi entah kenapa, saya menilai diri saya pendiam.
Oh iya, saya mempunyai nama baptis yang diberikan gereja, Robertus. Jadi sebenarnya nama lengap saya, Robertus Hapsara Soma Adhi Sasangka. Nama itu saya pakai sampai selesai sekolah dasar, dan diputuskan untuk tidak dipakai lagi, karena di akte kelahiran memang tidak tertera nama Robertus. Sungguh lega hati saya, karena nama yang sangat panjang tersebut sangat mencolok di buku absen. Dan jika nama saya disingkat menjadi R. maka orang-orang akan menganggap saya Raden. Saya bukan Raden, dan saya bosan menjelaskannya.
Tidak sampai dua tahun saya sendiri. Karena pada akhir bulan Januari 1987, lahirlah adik laki-laki saya yang dinamai Ganesha Putra Vidya Hutama. Karena pautan umurnya sangat dekat, maka masa kecil kami, seperti halnya anak laki-laki pada umumnya, diisi oleh perkelahian, baik itu mulut atau fisik. Ibu saya bercerita, waktu itu saya sangat cemburu, karena bapak dan ibu saya lebih memperhatikan Ganes daripada saya. Pernah ada kejadian, waktu Ganes sedang menyusu, mata dia waktu kecil, dan sampai sekarangpun termasuk besar, atau melotot, jadi dengan tanpa dosa ganes menatapku dengan pandangan melotot seperti itu, saya lagsung mencoloknya, saya tidak tahu apa yang saya pikirkan waktu itu. Tentu saja ibu saya marah dan memukul saya. Saat sudah agak besar, perebutan mainan, perebutan tempat duduk mobil yang berada di dekat jendela saat akan pergi sekolah (bapak mengantar kami dengan mobil dinas, mobil pick up), perebutan stick game, dan lain sebagainya. Kejadian yang sampai membekas ialah, waktu bermain api dulu, saya iseng membakar pulpen plastik, dan lelehannya saya teteskan ke tangannya, dia menangis kesakitan, sampai sekarang tangan dia berbekas. Jika saya melihat tangannya, saya suka teringat oleh kejadian tersebut, dan menyesal. Tapi dia tak kalah. Saya lupa karena apa berkelahi, tapi waktu itu kita sekeluarga liburan ke Samarinda, bapak dan ibu sedang membeli makan malam, dan kami ditinggal berdua di mobil. Saat berkelahi, Ganes mencakar pipi kanan saya dengan kukunya yang saat itu memang lagi panjang. Dan alhasil, luka tersebut masih berbekas sampai sekarang.
Yah, saya rasa cukup adil.
Perkelahian memang kebanyakan dimulai oleh saya, karena saya sebagai kakak memang lebih dominan. Walaupun saya tahu, kalau dia melawan, kemungkinan besar saya akan kalah, karena badan dia memang lebih besar daripada saya, sampai sekarang.
Disamping kejadian-kejadian itu, banyak juga hal-hal lucu yang terjadi antara saya dengan Ganes. Cerita ini agak jorok. Saya ingat, pada waktu hari lebaran, kami sekeluarga bersilahturahmi ke rumah reka-rekan kerja bapak saya. Kami memang paling malas diajak bertamu, karena kami mendengar banyak pembicaraan yang tidak kami mengerti, tidak boleh ini, tidak boleh itu, harus bersikap manis. Maka kami bersikeras menunggu di luar. Karena bosan, kami mengintip mereka di bawah jendela, menguping pembicaraan mereka disana, yang masih tetap tidak kami mengerti. Tak lama, perutku terasa mulas, dan ingin (maaf) kentut. Saya bukan main menahannya dan cukup lama memang. Karena tak kuat lagi, dan tidak punya pilihan lain, saya terpaksa mengeluarkannya sedikit-sedikit dengan maksud agar tidak bunyi, ternyata saya salah besar. Karena bunyi yang dihasilkan sangat lucu, seperti suara angin yang dijepit, dengan lengkingan yang cukup nyaring didengar. Ganes yang berada tepat di depan saya, dengan wajah bloonnya menatapku, sementara bunyi itu tetap berlangsung. Perpaduan antara wajah herannya yang bertanya-tanya suara apakah itu, suara yang lucu, tatapan Ganes yang memang sangat menggelikan, dan yang paling utama, saya tak sanggup lagi bertahan, dan akhirnya pertahanan saya jebol, kami tertawa hebat tapi masih tetap menahan suara tawa kami agar tak terdengar. Saat saya tertawa, (maaf) angin yang tertahan itu keluar dengan hebatnya, sehingga menimbulkan bunyi, yang saya tahu, itulah bunyi terkeras yang pernah saya dengar dalam sejarah saya (maaf) kentut. Dan kami pun tak bisa lagi menahan tawa kami. Tak selesai sampai disitu, ternyata perut saya belum menyerah (saya tidak tahu apa yang saya makan), sambil terkekeh-kekeh, suara (maaf) kentut saya pun terkekeh-kekeh juga, mengikuti nafas saya yang kacau gara-gara tawa saya, sehingga kalau didengar dengan sungguh-sungguh, seperti ada tiga suara yang tertawa terkekeh-kekeh, ganes, saya dan (maaf) tak lain tak bukan, kentut saya sendiri. Kesimpulannya, dalam waktu hanya beberapa detik saja, saya bisa menciptakan tiga bunyi (maaf) kentut dengan suara, intonasi, dan nada dasar yang berbeda-beda. Alhasil, karena keributan tak terduga itu, kita ketahuan oleh sang pemilik rumah, dan kami pun disuruh masuk. Sambil duduk, kami masih cekikikan gara2 kejadian tersebut. Kejadian yang tak pernah saya lupakan. (nb: saat saya menulis ini pun, saya masih tergelak mengingatnya).
Banyak pengalaman yang saya alami dengan dia, yang tak bisa saya ceritakan satu-satu disini. Memang dulu kita selau berkelahi dan tidak akrab. Tapi sekarang saya dan dia sudah seperti sahabat. Kita saling mengerti kondisi kami masing-masing, saling membantu. Dan saya bangga mempunyai adik seperti dia.
Kehidupan kecil saya seringnya beraktivitas di luar, seperti bermain bola, layangan, memancing, bermain dengan teman di luar. Sementara Ganes lebih suka di rumah, melakukan sesuatu, membongkar alat, diam di kamar. Tak heran, saya lebih unggul dalam kegiatan fisik, sementara dia lebih unggul dalam hal berpikir. Di depan rumah saya, terdapat kolam ikan milik tetangga saya, dan di dekat situ, juga terdapat rawa dengan hutan kecil. Disitu saya sering menghabiskan waktu dengan memancing, menjebak burung, mendapatkan ular dalam pancingan saya. Saya memang suka memancing, tapi saya pikir mancing itu masalah bakat. Ganes memang suka memancing seperti layaknya saya, tapi dia jarang, hanya sekali-sekali saja. Tapi begitu ia memancing, kenapa hasil tangkapannya selalu banyak? Pertama kali saya mencoba merokok pun disitu. Ketika saya kelas 3 SMP bersama dengan teman dekat saya waktu itu, kita membeli satu bungkus rokok, lalu kita duduk disitu, dan menghabiskan seluruhnya pada saat itu! Kami habiskan, karena kami sangat takut untuk menyimpannya, dan sangat sayang kalau dibuang. Bayangkan saja, untuk mempercepat, kami membakar 3 sampai 4 batang sekaligus. Saya mencoba hanya biar tidak penasaran, setelah itu saya tak merokok lagi. Tetapi teman saya berlanjut, ia mulai kecanduan merokok, samapai sekarang. Saya merokok lagi pada tahun 2006, dan bukan kejadian itu yang membuat saya jadi perokok. Nanti saya ceritakan.
Sepakbola, mungkin bagi saya ini lebih dari sekedar hobi. Aktivitas ini mempengaruhi jalan hidup saya. Saya mulai bermain bola dari semenjak saya kenal bola. Bapak saya membelikan bermacam bola waktu itu, dari bola kaki, basket, voli. Tapi saya lebih tertarik bermain bola kaki. Dari kecil bapak saya sudah melatih saya menyundul bola. Saya sekarang punya keahlian lebih di situ, apalagi dengan badan saya yang tergolong tinggi. Saya bermain dari mulai di depan rumah, sampai lapangan. Tidak karuan luka saya jika bermain di aspal, tapi saya senang. Saking gatalnya kaki saya, kadang jam setengah empat sore saya tiba di lapangan, dan saya adalah tamu pertama di lapangan itu. Saya bisa dibilang pandai, karena di kompleks saya, saya dan teman-teman tetangga saya yang menjadi partner jika menghadapi kompleks lain, sebagian besar selalu menang. Dari cuaca panas sampai hujan. Tapi saya lebih senang main bola sambil hujan-hujanan, atau main hujan sambil bola-bolaan, saya juga bingung. Seru sekali, karena dengan air yang setinggi mata kaki, sangat sulit menendang bola, alhasil, saya menjatuhkan diri setelah sebelumnya berlari kencang, itulah berselancar yang saya ketahui. Sehingga saya mempunyai penyakit aneh yang sampai sekarang saya tidak tahu namanya. Jadi tiap kali main hujan di lapangan itu, ya, hanya lapangan itu, malam harinya kedua kaki saya langsung bentol-bentol merah merata seperti digigit nyamuk, tapi anehnya saya tidak merasa gatal, demam, meriang atau apapun. Hanya bentol-bentol saja. Sama sekali tidak mengganggu aktivitas, Cuma ya otomatis saya tidak bisa memakai celana pendek. Setelah dua atau tiga hari, bentol itu pun mengering. Disini anehnya. Pada waktu kering, saya tinggal menggosokkan tangan saya sedikit kencang merata ke kaki saya, dan dari bentolan tersebut, keluarlah semacam kristal kecil yang terlepas dari masing-masing bentolan berwarna keemasan. Ada sensasi tersendiri dari aktivitas itu. Dan setelah itu saya pun sembuh. Dan saya tidak kapok bermain bola dan hujan.
Prestasi saya di sekolah semasa SD memang pada puncaknya waktu itu. Prestasi terbesar saya adalah peringkat 5 pada kelas 4 SD. Saya sangat giat belajar waktu itu, karena saya bukan tergolong anak yang cepat menangkap pelajaran, maka saya atasi kekurangan itu dengan giat belajar. Sayang, setelah itu saya terlalu banyak bermain, maka jadilah saya murid yang biasa-biasa saja, tidak pintar, tidak bodoh juga. Dan dari dulu saya sangat menyukai matematika murni, hitung-hitungan, tanpa diselipkan kimia atau fisika, karena yang sudah saya ceritakan sebelumnya, ingatan saya tak cukup kuat untuk menghafal rumus hafalan yang segambreng. Tidak seperti matematika yang Cuma membutuhkan logika. Sayangnya, saya juga kurang teliti, sehingga nilai matematika saya akhirnya sama saja seperti yang lain. Pernah waktu SMA, waktu ada ulangan harian matematika, saya yakin, mengerti, dan menguasai semua soal 100 %. Tetapi karena kepercayaan diri yang begitu tinggi, saya pun terjerumus kedalamnya. Saya mendapat nilai yang buruk, sehingga harus mengulang. Memang benar saya mengerti, tetapi saya teledor di hampir seluruh soal, seperti salah jumlah, salah tulis, dan lainnya. Disamping itu pula sang guru sangatlah teliti, sampai –sampai angka desimal kedua haruslah sama. Akhirnya saya mencoba untuk sedikit teliti, tetapi tak banyak berubah. Yah, memang itulah kelemahan saya, pelupa dan teledor.
Pelanggaran peraturan yang paling parah saya alami pada waktu kelas 5 SD, saya diberi peringatan sangat keras oleh guru. Dengan modal uang jajan, saya membuat undian, seperti ibu-ibu arisan, tapi di kertas saya tulis hadiah-hadiah yang bisa didapat. Jadi pada waktu itu isi tas saya sebagian besar adalah hadiah-hadiah, seperti buku, pensil, wayang (gambaran) yang memang populer pada waktu itu, dan segala macam mainan. Murid yang akan mengambil undian, harus membayar. Dan dari situlah saya meraup keuntungan. Setelah saya tahu bahwa ternyata itu menguntungkan, saya perbanyak kertas yang bertuliskan “ANDA BELUM BERUNTUNG”. Tetapi itu tak lama, karena segera terendus oleh guru. Saya diperingatkan keras, karena itu termasuk judi (sekarang saya masih bingung, apakah itu judi atau tidak), uang hasil undian disita, beserta mainan dan perlengkapannya. Itulah pertama kalinya saya memulai bisnis, dan untuk pertama kalinya juga, saya gulung tikar. Saya menyesal, bukan karena saya dituduh bermain judi, tapi saya menyesal karena dengan undian itu, saya membohongi teman-teman saya.
Kejadian waktu SD yang menurut saya lucu, tetapi juga tragis, bersama sahabat dekat saya waktu itu, Andi. Rumahnya sangat dekat dengan rumah saya. Setelah bermain bola, kami berdua pulang dengan mengendarai sepeda legendaris saya yang berwarna hijau, saya modifikasi menyerupai motor cross, dan dia saya bonceng di belakang. Atas persetujuan kita berdua, saya pun ngebut di jalanan turun, saya injak pedal sepeda sekuat saya bisa, dan sepeda pun meluncur sangat kencang. Saat mengebut, ternyata Andi dengan isengnya, menggoyangkan badan ke kanan dan ke kiri berulang-ulang, sehingga sepeda oleng. Setengah mati saya tahan setang sepeda sembari teriak agar dia berhenti, tapi dia tak juga berhenti. Akhirnya saya hanya berkonsentrasi agar setang tetap lurus, karena sangat sulit mengedalikan sepeda goyang yang sedang melaju kencang. Tak lama kemudian goyangan berhenti, saya pun lega karena saya akan pulang masih dalam keadaan utuh. Setelah jalanan mendatar dan laju sepeda berkurang, saya bermaksud memarahinya, saya menengok ke belakang, dan ternyata saya tak menemukan siapa-siapa. Ternyata Andi sudah tersungkur jatuh, jauh di belakang. Dia jatuh karena goyangannya sendiri. Saya akan tertawa terpingkal-pingkal jika tak melihat dia berlumuran darah di mukanya. Dia terjatuh cukup parah, giginya ada yang cuil, dan bibirnya terpaksa harus dijahit karena robek cukup panjang, belum lagi lecet-lecet di lengan dan mukanya.
Saya mempunyai seorang sahabat, yang sampai sekarang saya sangat bersyukur, mempunyai dia sebagai seorang sahabat saya, yang mengerti kondisi saya, yang selalu ada jika saya membutuhkannya, terutama sekarang-sekarang ini, saat saya membutuhkan banyak masukan. Dia adalah seorang perempuan. Dia dipasangkan oleh guru untuk duduk semeja dengan saya. Dan dia adalah perempuan pertama yang duduk semeja dengan saya. Anak perempuan itu bernama Ajeng Srimastuti. Saya sangat suka menggambar. Dan itu berhubungan dengan kejadian yang masih saya ingat sampai sekarang. Dia mengamati dengan serius saat saya menggambar seorang laki-laki kekar bertelanjang dada, seperti di komik Dragon Ball, yang sangat populer pada waktu itu. Dia bertanya sepada saya, sedang menggambar apa. Dengan polosnya saya jelaskan, “ini gambar orang, ini kepalanya, ini tangannya, dan ini (maaf) teteknya, ini..” dan tiba-tiba dia berkata setengah berteriak, “JOROK KAMU, DHI!” lalu marah dan memalingkan mukanya. Saya sangat heran, apa yang salah dari penjelasan saya. Tapi kemudian saya mengerti, bahwa kata itu memang tabu diucapkan kepada perempuan. Sejak saat itu, saya tak pernah lagi mengucapkan kata itu di depan perempuan.
Masa-masa di sekolah dasar memang cukup menyenangkan, dan mengesankan. Pelajaran hidup yang ada membuat saya mengerti, bahwa persahabatan dan permainan menumbuhkan rasa yang indah, rasa yang tak akan mungkin diulang. Bagaimana ibu menyiapkan seragam, membuatkan sarapan dan, bapak mengantar saya ke sekolah, bisa juga berjalan kaki, atau naik sepeda hijau legendaris saya. Pulang sekolah, ibu mengejar-ngejar saya agar saya makan siang, tidur siang, dan bermain. Rutinitas yang biasa, dalam keluarga yang biasa. Tetapi semua itu saya sadari adalah kenangan yang sangat indah, kenangan yang sekarang tak bisa lagi saya rasakan setiap hari. Yah, kecuali pada saat di rumah, ibu masih sering memaksa saya untuk makan
Masa-masa berdasi merah yang banyak terlupa, tetapi artinya membekas, dan terbawa sampai sekarang, dan yang akan datang.

Advertisements

~ by tulishapsara on September 24, 2010.

2 Responses to “LINGKARAN PERTAMA”

  1. 2006 itu identik ama tomang yak?!? :))

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: