KUMPULAN SAJAK (2006-2010)

Kumpulan sajak yang saya buat ini adalah cerminan, gambaran saya. saya mulai mencoba menulis sejak SMA. Saya mencoba menampilkan sedikit, dari apa yang bisa saya buat, dan apa yang bisa saya bagi. Yah, tidak semuanya saya publikasikan. Karena saya masih belum kuat secara mental… haha!

Selamat menikmati, apapun itu nikmatnya…

CINTA ITU KAMU

Kau temani langkahku saat ku sendiri

Kau genggam tanganku saat ku butuh seseorang

Kau belai hatiku saat ku bersedih

Kau tuntun aku menuju tempat itu

Ke tempat dimana semua itu indah

Kali ini kurasakan bahwa cinta itu indah

Cinta itu takdir yang tak bisa dihindari

Cinta itu adalah rasa

Yang tak ingin kehilangan orang yang dicintainya

Yang bersedia berkorban deminya

Yang menyayanginya apa adanya

Cinta itu kamu…

TAJAM UNTUK KEPASTIAN

Tak ada lagi cinta yang timpang

Sebuah pedang tajam berbicara

Bukan mengatas namakan cinta

Hanya untuk langkah yang pasti

(Tanpa Judul)

Sorot langit malam ini menyapa seakaan tahu apa artimu.

Jangankan aku, bulanpun termenung

AKU DAN MALAM

Malam ini bulan terlihat murung

Dia bercahaya apa adanya

Apakah yang engkau renungi?

Sudah bosankah melihat tingkah kita?

Kulihat bayanganmu di tepi kolam

Dipecah oleh ranting yang jatuh

Diseberang tampak pria tua

Sudah tampak letih hidupnya

Disampingnya perdu menunduk layu

Suram sekali malam ini

Semakin dingin,

Tanganku erat terlipat

Ku membisu cukup lama

Air hujan yang menamparku lemah

Bersatu bersama air

Di ujung mata

Aku menangis bersama malam

AYOLAH

Hatimu bagai senja jingga

Di pelataran hatiku

Pojok gelap kau terangi

Hatiku bergeming menjamahmu

Rindu, aku tak mau tahu!

Ajak aku menemuimu

Sebelum aku terlambat

Sebelum gelap menjemput

Sebelum aku menjadi takut

(Tanpa Judul)

Sinar bulan malam ini terlalu terang

Menerobos sampai ke relung-relungku

Menembus hati yang beku

Biar awan yang mengantar pesanku

Agar dia tahu dan mengerti

Cahayamu tak selalu sendu

ALAM SETIA

Mengertilah sedikit saja pada alam, dan dengarkan mereka

Ilalang yang tak henti berdansa, gemericik air berpacu ke hilir

Ranting yang menari bersama helai daunnya, dan terpaan angin gunung

Bisikan mereka satu dalam diamnya. Ketika kau sendiri, mereka menemani dengan setia

KOTA LALU

Aku bisa melihat kota yang kau datangi

Kerlip lampu kotanya pun tak jemu kuamati

Lampu yang sama, yang kutatap hari demi hari

Tapi kali ini sinarmu berbeda

Sekarang kerlipmu terselip sesuatu yang indah

Aku bisa mendengar jejakmu dari sini

Sungguh terdengar sangat dekat sekali

Tapi tak sedikitpun langkahmu terlihat

Sudah lama sekali rasanya kutunggu dirimu

Dan untuk pertama kalinya kau buka pintumu

Kau bicara padaku meski cuma lalu

Tapi kau goreskan dalam artimu di dadaku

Aku ingin menggenggam tanganmu sekali saja

Merasakan jemarimu yang memeluk hangat

Dan akupun rindu sorot matamu padaku

Sorot yang selama ini tak terbalas

Ingin rasanya ragaku menjemputmu terbang

Terbang mengacak awan dan mewarnai pelangi

Sampai bintang-bintang muncul dan menatap iri

Biarkan saja bulan menunggu dan terbenam hilang

Tapi tak jenuh aku bersamanya

Diantara kerlip kotamu

Diantara barisan bintang menunggu

Ijinkan aku coba sekali lagi

Menggenggam hatimu kembali

Mengharapkan cintamu lagi

Oktober 2010

(Tanpa Judul)

Jika aku telah mendapatkan genggaman tanganmu

Tak akan kubiarkan lagi lepas

Seperti sekarang aku menggenggam bayanganmu

TANTANGAN SAAT MALAM

Mengakhiri hari, tutuplah matamu

Kenanglah hari-hari ini seperti kau

Mengenang hari-hari manismu

Berikan senyum pada tidurmu

Dan bersyukurlah

Ucapkan pada dirimu, dunia, dan semesta

“Selamat malam kehidupan,

Aku akan menantangmu lagi esok!”

MEREKA BERPUTAR

Waktu-waktu berlalu

Usia semakin senja

Kehidupan yang bergulir

Kehidupan bicara

Datang, pergi, dan tinggalkan

Daun yang berguguranpun

Takkan pernah kembali

Tapi tunas baru

Akan datang mengisi

Alam yang mengambil,

Alam yang memberi

Dan kita tanpa kuasa

Berputar ditengahnya

Hadapilah itu,

Tak usah mengeluh

MELAJULAH

Roda yang mengayuh cepat, irama pedal bergantian

Rumput yang melambai menari di kanan-kiri jalan

Berkata, “Paculah cepat searah asa tergapai!”

Terpaan angin yang basah menerpa wajah bingar

Tersenyum kuterbuai, selaksa awan yang berarak damai

Gebyar semangat tak pernah usai, kupacu dan kupacu

Sampai jalan berakhir, ku kan terus melaju

Menghadap indah dunia, yang beraroma ilalang pagi

PAGI MENDUNG HARI SELASA

Pagi mendung hari selasa

Ia menutup tingkap-tingkap hati yang cemas

Pagi mendung hari selasa

Ia membuat harapan akan sinar matahari

Pagi mendung hari selasa

Ia hilangkan bayangan orang-orang gulana

Pagi mendung  hari selasa

Ia munculkan bayang pelangi di abu-abunya

Pagi mendung hari selasa

Ia merasa abadi diantara malam dan siang

Pagi mendung hari selasa

Yang terlewat

Advertisements

~ by tulishapsara on October 26, 2010.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: