Pria Berkacamata

Sudah lama juga saya tidak mampir di blog saya ini, *bersihin sarang laba-laba*. Memang sieh, waktu cuti seperti sekarang ini saya manfaatkan sebaik-baiknya, dan sayapun memutuskan bahwa menulis adalah target ke sekian saya, jauh dibawah jalan-jalan, liburan, travelling, photography, dan lainnya. Tapi setelah saya menulis seperti ini, rasa rindu pun muncul, jari yang gatal dan pikiran yang ingin seirama dengan hentakan suara jari yang bertemu keyboard. Maka saya putuskan untuk mulai menulis kembali.

Saya ingin bercerita satu hal tentang hal menuilis ini. Ternyata berlama-lama ngendon di depan layar laptop ini saya harus mengorbankan satu hal.

Mata.

Yup, mata saya yang sedemikian sehat ini akhirnya minus juga, padahal saya tak punya garis keturunan yang menyebabkan saya minus, tapi nyatanya. Inilah akibatnya jika kebanyakan membaca sambil tiduran, dan ngeliatin layar laptop.

Saya sudah mulai merasakannya pada saat masih bekerja. Kenapa setiap ada objek yang jauh, berkali-kali yang melihat pertama kali justru orang lain, padahal saya dulu terkenal bermata tajam, karena sering diasah (piso kalii), tapi disitu saya belum sadar. Saya sadar saat cuti, kenapa saya tak bisa melihat plang tulisan yang ada di jalan-jalan pada jarak 15 meter atau lebih itu. Akhirnya saya dengan ditemani pacar saya mencoba cek apakah benar mata saya ini minus, atau hanya sekedar capek.

Pengecekan pertama dengan komputer, saya tak bisa mengerti cara kerjanya. Saya Cuma disuruh melihat ke dalam suatu lubang, dan saya melihat ada pohon natal virtual yang kecil sekali, kadang buram kadang tajam. Kemudian setelah itu mata saya dicek manual, yaitu dengan menggunakan kacamata khusus yang lensanya bisa digonta-ganti berdasarkan ukuran minusnya. Saya melihat huruf-huruf yang makin ke bawah makin kecil ukurannya, dan saya tak bisa melihat ukuran yang paling bawah. Perasaan saya ngga enak. Dan benar saja, pada saat lensa pertama dipasang, huruf-huruf laknat paling bawah itu secara ajaib terlihat. Beberapa saat kemudian, dengan muka sedih, mas-masnya berkata, “matanya minus setengah, mas…” begitu huruf terakhir itu tersebutkan, rautnya berubah nyengir sambil berkata, “Sekarang pilih kacamatanya, mas…” siaul, dasar komersil, cek matanya sieh gratis, tapi kalo dipaksa beli kacamatanya juga ya sudahlah, akhirnya sejak saat itu saya menjadi pria berkacamata. Kampreeet….

 

Advertisements

~ by tulishapsara on February 8, 2011.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: