Go Travelling

Dalam tulisan ini saya akan memaparkan tentang mimpi-mimpi saya, mimpi yang pasti akan ditertawakan oleh teman-teman. Yah, tidak menutup kemungkinan anda juga bakal menertawakan ini semua, tapi setidaknya sebagian dari kita punya minat yang sama, walaupun dengan alasan yang berbeda mungkin saja. Toh juga jarang orang-orang jaman sekarang yang menulis seperti ini. Mereka lebih concern ke teknologi digital yang minimalis, simple, spontan, dan mudah, seperti sms atau menelpon.

Tapi satu tahun terakhir ini, saya cenderung jadi suka menulis. Entah, apa yang saya pikirkan sehingga bisa menulis seperti ini, perbuatan yang akan saya sesalkan, atau saya syukuri nanti, saya tidak akan tahu. Itu tergantung keputusan Tuhan.

Oke, pada awalnya saya memang suka berpergian. Bukan tempat tujuan yang saya utamakan, tapi perjalanannya. Saya merasa bahwa dengan suatu perjalanan, itu adalah suatu proses pendewasaan diri. Jauh lebih banyak hal-hal menarik dan spontan yang dapat kita temui dalam perjalanan. Mengunjungi tempat-tempat yang belum pernah saya kunjungi, merasakan gegar budaya di tempat itu, merasakan setiap tarikan nafas masyarakatnya, setiap tiupan angin yang meniup helai rambut, menikmati suasana alam yang baru, budaya berbeda. Maaf, bukan saya merendahkan orang Jawa, saya sendiri orang Jawa. Tapi budaya Jawa dan aturannya sudah menjadi makanan sehari-hari di rumah, atau di lingkungan. Bahkan dengan berkaca pun, saya sudah melihat sosok laki-laki bermuka jawa. Saya ingin sesuatu yang berbeda.

Bukan, saya tidak akan operasi plastik.

Hhmmm, kayaknya saya bukan mau menulis skripsi disini, terikat dengan bahasa saya. Saya ganti dengan tulisan yang agak santai saja ya.

Kayaknya saya sedikit ditulari oleh Soe Hok-Gie, dengan keidealisan dan kemanusiannya. Yah, saya emang lagi baca bukunya dia akhir-akhir ini (heran, membaca dan menulis, dua hal yang sangat saya jauhi dulu waktu SMA, sekarang jadi kegiatan favorit…). Dengan traveling, saya pengen tau kondisi masyarakatnya, kehidupannya, pengetahuannya, bagaimana mereka bisa merawat alamnya. Dengan begitu, saya jadi lebih bisa menghargai alam, menghargai hidup. Oh iya, ini konteksnya di Indonesia, bukan foreign country. Itu mah nanti saya jelasin juga.

Saya mau cerita dikit nieh. Awal tahun kemaren, waktu saya lagi cuti kerja, tiba-tiba saya memutuskan untuk ke Bali. Orang rumah pasti kaget dengan keputusan saya. Gimana ngga, sore saya bilang, malamnya saya berangkat. Haha! Keputusan yang sangat terburu-buru dan tanpa persiapan sebenarnya, tapi gejolak saya emang udah meledak di ubun-ubun, dan ngga bisa lagi ditahan. Syukurlah, saya direstui walaupun dengan omelan dan pertanyaan, apa maksud ketidakjelasan saya ini. Dan akhirnya saya berangkat malam itu juga, sendiri, dengan mengendarai mobil. Oh iya, rumah saya di Batu, Malang. Melewati jalur selatan, dengan jalur yang memotong pegunungan Semeru, dengan modal peta yang siangnya saya beli di Gramedia, mungkin terdengar nekat. Keluar dari Malang aja udah disambut sama hujan yang derasnya luar biasa. Dasar mobil butut, akhirnya air hujan merembes kemana-mana, dari depan kaca mobil, atap mobil, sela-sela pintu, dari bawah pun ada. Akhirnya semua basah, tas saya terkena, dan jadi lembab isinya, kaca berembun, tape rusak karena korslet. Asal jangan mogok aja, saya ngga kuatir.

Dinginnya ngga karuan waktu itu.
Selesai dengan hujan, saya memasuki daerah semeru. Sungguh, jalannya ngajak berantem banget. Pasti tahu jalan ke puncak khan? Nah, sama, tapi lebih kecil, karena luasnya hanya pas banget untuk dua mobil, dan 5 kali lebih panjang dan lebih buruk. Sisi kiri tebing yang ngga bisa saya liat ujung atasnya, dan sebelah kanan kemungkinan besar itu jurang, karena setelah pagar pembatas jalan, saya Cuma bisa liat gelap yang kosong melompong. Ditambah kabut, yang waktu itu emang tebel banget. Paling parah, saya Cuma bisa liat sekitar jarak 2 meter dari lampu mobil saya. Kondisi kayak gitu, jauh lebih ampuh dari 5 gelas kopi. Saya udah kayak dayung perahu, setir banting kanan, banting kiri, tanjakan, turunan, rem, dengan mata yang fokus di marka jalan, satu-satunya petunjuk saya. Dini hari yang sangat dingin itu, dengan kelembaban yang luar biasa, keringat sayapun mengucur. Dan sampai akhir jalan itu, saya tak satupun menemukan rumah penduduk, dan tak pernah saya menemui mobil lain yang lewat.

Ngga pernah saya berpikir ‘hal’ lain. Saya lebih memikirkan hal yang lebih nyata, perampok misalnya. Karena memang itu bakalan membahayakan nyawa. Andai saja saya bertemu ‘hal’ lain itu, saya tak akan sedhasyat jika bertemu perampok, toh ‘mereka’ ngga akan ngebacok ato ngebunuh. Jika saja itu benar, pasti orang Indonesia udah punah dari dulu. Kepercayaan masyarakat Indonesia akan hal-hal seperti itu khan emang ada.

Ternyata setelah itu, subuh saya memasuki kota Jember (kalo ngga salah). Bertolak belakang dengan yang di atas, jalannya tuh luruuuuuuus banget, udah gitu sepi. Dua jam dengan jalan sepi dan lurus seperti itu, bikin ngantuk ternyata. Mobil yang ngga bisa di gas full, karena temperatur bakal naik (kipas pendingin mesin mobil ngga jalan), dan situasi nyetir yang monoton kayak gitu, emang harusin saya minggir, buat relaksasi. Di situ kehidupan juga udah mulai berjalan ternyata. Pasar kaget, orangtua-orangtua yang berjualan sayur dengan seyum ramahnya. Pengendara motor yang muatan sayurnya bisa 4 kali lipat lebih besar, bapak-bapak yang pergi ke masjid. Pagi itu udah mulai ngga dingin, malah terasa sejuk, burung-burung udah mulai berisik dengan kicauannya, dibantu sama ayam jantan dengan suara tenornya. Sinar kemerahan di ujung sawah yang menandakan matahari ingin segera memulai harinya, kegiatan yang sama persis dia lakukan dari jutaan tahun lalu. Kadang juga gemerisik daun ikut ambil suara. Lewat dengan cueknya, ayam betina yang ribet ngurusin anak-anaknya yang berpencar kesana-kemari, sambil diselingi garukan cekernya ke tanah, ngga tau mau cari apa, yang penting makan.

Sungguh, suasana kayak gini, yang saya impikan. Capek tuh rasanya menguap.

Mungkin hal kayak gitu keliatannya kecil yah. Tapi dengan itu, saya jadi tau banyak, bahwa ada hal-hal lain di luar rutinitas kita yang ternyata jauh lebih excited, jauh lebih menyenangkan, dan jauh lebih berharga daripada sekedar kerja, kerja, dan kerja. Dan traveling adalah salah satu cara untuk bisa mewujudkan hal itu.

Mimpi itu.

Justru begitu sampai di Bali, saya hanya menghabiskan waktu Cuma di Kuta. 2 hari kemudian saya langsung pulang dengan melewati jalur Utara, dengan jalur yang berbeda saat saya pergi.

Pengalaman, tantangan, pelajaran yang bisa saya ambil sangat banyak disitu. Bahwa alam bisa saja berbuat apa saja dengan kita yang hanya secuil ini dibanding dia. Kita Cuma numpang, dan malah kita sendiri yang ngerusak. Kalo dipikir-pikir ya, memang kurang ajar ya manusia itu. Kita mengambil semua yang kita butuhkan sebanyak-banyaknya, tanpa pernah kita pikirkan, apa yang alam butuhkan, apa yang alam perlukan dari kita. Alam tak pernah menuntut balas budi dari apa yang kita minta. Bencana alam itu hanya sebatas ‘teguran’kecil aja, dan sebagian besar, itu juga karena kita. Banjir, longsor, dan lainnya.

Dan saya ngga mau jadi orang yang kayak gitu. Saya pengen dekat sama alam.

Naah, hal-hal kayak gini nieh, yang bakal diketawain temen-temen saya. Bakal dibilang sok care lah, ngurusin diri sendiri aja ngga becus, mau ngurusin gituan, ato segala macamnya.

Saya juga suka traveling ke luar negeri. Tapi ngga kayak yang lain yang pernah pergi ke Eropa sana. Saya Cuma sebatas Asia, itu juga karena tuntutan pekerjaan. Tiap ada kesempatan, saya coba untuk tau apa-apa saja yang berbeda dari Indonesia, seperti yang kalian tau, memang negara lain tuh jauh berbeda.

Secara sosial, maju nggaknya suatu negara, ternyata tergantung dari masyarakat negara itu sendiri. Dan masing-masing rakyat negara tertentu, mempunyai ciri khas, yaitu sifat mereka secara umum, moral mereka terhadap negara mereka, kesadaran mereka. dan inilah yang membuat negara mereka lebih maju. Kalau hanya untuk traveling, saya suka. Tapi untuk ke hal yang lain, seperti mengerti budaya mereka, atau mempelajari secara khusus, ngga begitu suka juga. Lebih enak di negara sendiri kayaknya. Kita memiliki lebih dari 40.000 pulau, berbagai macam suku, dengan 67 bahasa induk, rasa-rasanya memang lebih dari cukup.

Yah, itu Cuma opiniku aja yang pengen saya share.
Mungkin segelintir ini aja yang saya bisa share sama. Saya Cuma ingin menulis, menulis sesuatu yang bisa saya tulis, yang mungkin bisa sedikit berguna bagi yang baca.

Baiklah, terimakasih. Semoga Tuhan selalu beserta kita.

Posted with WordPress for BlackBerry.

Advertisements

~ by tulishapsara on February 11, 2011.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: