Philippine

Malam ini koq rasanya ga enak banget yah? Karena itu, saya coba buat nulis yang ringan-ringan aja. Hhmm.. Oiya, saya akan nulis pengalaman saat tahun pertengahan 2009, pas saya sekolah sekitar 2 minggu di Manila, Filipina.

Waktu itu saya ditugaskan untuk mengambil kelas Japan Maritime Law, Hukum Laut Jepang, yang herannya sekolahnya berada di Filipina. Pengalaman ke luar negeri kali ini berbeda dengan yang sebelumnya. Biasanya waktu di Jepang kemaren, masih terikat pekerjaan, jadi mengunjungi kota juga dilakukan buru-buru, karena dibatasi waktunya yang Cuma dua atau tiga jam saja. Enaknya lagi, selama dua minggu disana, masuk kelasnya hanya berlangsung 5 hari, yaitu empat hari pertama, dengan dua hari sebelum pulang. Jadi ya sisa waktunya saya habiskan untuk jalan-jalan dan berbelanja. Udah kayak cewek, belanja.

Sewaktu tiba di Airport Manila, saya lupa namanya, hawa panas langsung terasa membakar, maklum, waktu itu pertengahan tahun, dan matahari sedang berada di belahan bumi utara, jadi ya terasa lebih panas dari Jakarta. Selayang pandang berkeliling, saya tidak melihat begitu banyak perbedaan, baik orang, dandanan, dan lainnya. Kemudian saya dibawa ke hotel yang bisa dibilang sangat mewah, karena berkelas internasional, Pan Pasific Hotel. Di perjalanan tersebut saya banyak melihat situasi di jalan-jalan, dan ternyata jalan dari airport menuju kota memang tak begitu bagus, dibanding dengan Jakarta, yang langsung disambut jalan tol yang panjang dan lebar. Dengan pengamen-pengamen, pengemis, dan daerah kumuhnya, rasa-rasanya memang saya tak pergi ke luar negeri. Saya sudah kenyang melahap situasi yang seperti itu. Dan setelah saya sampai di hotel, saya disuguhkan oleh kenyamanan kamar hotel yang paling nyaman yang pernah saya tempati, sendiri. Sungguh ironis khan.

Besoknya saya langsung masuk kelas, dan teman saya yang memang berbeda jurusan berbeda kelas dengan saya. Saya terkejut menyadari bahwa saya orang Indonesia satu-satunya yang berada disitu. Murid yang lain dari beberapa negara, India yang paling banyak, Filipina sendiri, lalu ada murid dari dua negara skandinavia sana, daerah dekat-dekat rusia, saya lupa nama negaranya. Mereka adalah orang eropa, yang cukup mencolok tentu saja, mencolok hidungnya yang memang sangat mancung, tinggi dan putih. Bandingkanlah dengan ras asia yang bisa kalian amati sendiri, tak usahlah keluar rumah, cukup berkaca saja. Naah, itulah ras asia.
Tiap-tiap negara rupanya mempunyai ciri khas sendiri di dalam kelas. Contohnya orang India yang begitu ada waktu luang sedikit (ga ada guru), mengocehlah mereka seperti beo kelaparan, dengan tawanya yang seperti mereka yang punya telinga sendiri. Dan situasi seperti itu terjadi dimana saja, kapan saja, di kelas, di lobi hotel, di mobil, di jalan, tak ada habisnya. Jika ada kesempatan bertanya, dengan semangat luar biasa mereka ikut andil. 90 % pembuka pertanyaan adalah mereka. mereka memang cukup kritis dalam pelajaran, dan bahasa inggris mereka pun cukup cas cis cus. Lalu orang orang asli Filipina yang begitu dominan, mereka mengobrol biasa saja, tapi lirikannya terhadap masing-masing negara mengindikasikan bahwa topik yang mereka bahas adalah orang-orang asing (bagi mereka) itu. Ngga tau memuji atau menjelekkan. Lalu ada orang skandinavia yang jika ada kesempatan bertanya pasti, “when we start coffe time?”. Orang-orang itu merasa bahwa ras Asia memang dibawah ras mereka. tampak sekali mereka meremehkan guru, seperti ngga dianggap, bahkan tak malu mereka tidur di dalam kelas, dengan kepala menengadah dan mulut terbuka lebar (ternyata bukan adikku saja yang tidurnya begitu, bule pun tak kalah). Sering juga mereka bercanda saat guru menjelaskan, sering ijin ke toilet untuk merokok, atau tak masuk kelas. Dengan sampel orang yang seperti itu, wajar saja jika banyak opini yang ngga bagus tentang mereka. kami, ras Asia kompak dalam hal ini.

Saya, sebagai satu-satunya wakil dari Indonesia, dengan bahasa Inggris yang belepotan, kepeleset, dan aa oo, pantas saja di cap pendiam. Saya lebih suka memperhatikan daripada diperhatikan memang. Sedikit bangga juga, karena guru yang asli Manila itu ternyata sedikit lancar bahasa Indonesia. Maklum saja, pada saat muda dulu, dia memang sering sekali berlayar ke Indonesia.
Hotel Pan Pasific, tempat saya tinggal, ternyata berada di daerah malam, daerah yang semakin malam, semakin ramai. Diskotek, club, café, tempat massage sudah lumrah dijumpai disana. Bahkan pada saat malam saya ingin mencari makan, begitu keluar pintu hotel, saya sudah didatangi sseorang (yang ternyata adalah germo) yang membawa buku, isinya adalah foto-foto perempuan dengan berbagai macam pose, tarif, dan umur, tak lupa namanya. Kalau begini, pantas saja jika teman-teman yang pernah berlayar singgah disini, Filipina adalah surga.

Makanan disana tak seperti di Indonesia. Mayoritas makanan mereka adalah daging babi, dengan bumbu rempah tertentu, sehingga kebanyakan masakan disana didominasi oleh asam dan manis. Tidak ada rasa pedas disana. Bahkan saos sambal di KFC pun, berwana coklat muda, dengan rasa yang asam pula. Lidah Indonesia jika makan disana, tentu saja kurang ‘nendang’.
Karena secara fisik, orang Indonesia dengan orang Filipina sama, saya pun sering dikira orang setempat. Tak jarang saya diajak ngomong bahasa tagalog, saya hanya tersenyum sambil berkata, “I’m not Filipino”, atau “sorry, I can’t speak Tagalog.”. untung saja sebagian besar orang setempat bisa bahasa Inggris, walaupun pengucapannya agak aneh. Contohnya “back”, mereka mengucapkan kata tersebut seperti layaknya kita menyebut bak, bak mandi. Rata-rata mereka menyebut huruf ‘A’ dengan mentah, seperti kita membaca huruf tersebut. Dan saya juga baru tahu ternyata bahasa tagalog dan bahasa Indonesia ada samanya. Contohnya ‘mahal’ dan ‘murah’, ‘durian’, ‘kita’ untuk menyebut kamu (seperti di Makassar), dan masih banyak lagi (lupa). Mahal juga berarti ‘sayang’. Jadi kalau orang sana mengungkapkan perasaan dengan kata ‘aku sayang kamu’, jadinya ‘mahal kita”. Cukup mirip khan?

Saya juga suka ngeri kalau sedang jalan ke tempat umum atau mall. Banyak ‘makhluk’ setengah jadi yang berkeliaran disana. Makhluk itu adalah bencong-bencong. Setengah jadi maksud saya adalah, mereka melakukan operasi pergantian kelamin atau payudara. Perhatikan kalimat saya, “ATAU”. Ya, jadi sering saya menemukan bencong dengan riasan tebal, dandanan yang sangat ketat, dari atas sampai bawah, tapi herannya saya menemukan kejanggalan. Karena ketatnya pakaian yang mereka pakai, saya bisa melihat kontur badannya. Dari pinggang ke atas mereka masih menyerupai laki-laki, tidak mempunyai (maaf) buah dada, tapi juga dibawah pinggang, ‘gundukan’ yang seharusnya ada, ternyata tidak ada!! Atau juga sudah mempunyai (maaf) buah dada, ternyata mereka juga masih mempunyai ‘gundukan’ dibawah pinggang.

Astagaaa…..

Saya yang memang takut sekali dengan bencong, dengan menemukan makhluk ganjil seperti itu, makin ngerilah saya…

Banyak sekali hal baru yang bisa saya temukan disana. Sayang sekali tujuan saya kesana adalah untuk sekolah, bukan untuk traveling. Alangkah indahnya jika saya bisa kesana untuk liburan, banyak daerah, pulau, dan pantai yang bisa dikunjungi. Apalagi Filipina adalah negara yang mengutamakan turis sebagai devisa negara, jadi rata-rata penduduk disana sangat ramah kepada orang-orang asing seperti kita. Jadi bagi yang ingin berlibur, dan bingung mau ke negara mana, dengan budget yang tidak terlalu banyak, Filipina adalah pilihan yang tepat untuk itu.

Terimakasih.

Posted with WordPress for BlackBerry.

Advertisements

~ by tulishapsara on February 11, 2011.

One Response to “Philippine”

  1. waaa udah ganti tema dia..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: