Idealisme VS Cinta

Salah satu persepsi yang tak pernah habis dibahas adalah sebuah hal yang bernama CINTA. Bagaimana bisa tidak habis? Karena cinta adalah sebuah perasaan, perasaan tiap-tiap manusia akan rasa saying, peduli, melindungi, memiliki, apapun bentuknya. Itulah sebabnya saya masih merasa heran, apakah kasus Century, Gayus, dan lainnya adalah merupakan perasaan?? Karena masalah itu memang tak pernah habis, dan tidak ada ujungnya, “Seperti mencari ketiak ular” kata Nagabonar.

Saya akan membahas salah satu persepsi cinta, menurut pandangan seorang teman saya yang tak usah saya sebutkan namanya. Dia adalah salah satu orang yang saya tahu bahwa ia sangat idealis. Ia memiliki jalan pemikiran sendiri terhadap suatu masalah yang dia temui. Sedikit mengingatkan saya pada salah seorang aktivis di tahun 60an, Soe Hok Gie. Gie berkata bahwa cinta itu tidak ada. Dia menganggap bahwa cinta hanyalah sekedar nafsu belaka, keinginan duniawi. Jalan pikirannya kira-kira seperti ini, tujuan orang menikah adalah ingin mempunyai keturunan, seperti salah satu nabi yang berkata beranak cuculah sebanyak bintang di langit, itu adalah bohong. Orang menikah hanya untuk kebutuhan nafsu belaka, orang hanya memikirkan bagaimana caranya bisa memuaskan nafsu. Kira-kira seperti itulah tanggapan Gie yang bisa saya tangkap. Dan pada akhirnya, orang yang terkenal sangat idealis dan hanya berjalan di jalan pemikirannya tanpa takut menanggung resikonya ini harus menjilat ludahnya sendiri beberapa saat sebelum kematiannya di Puncak Semeru. Ia bimbang akan pemikirannya, karena ia telah jatuh cinta.

Tidak ada seorang pun yang bisa menyangkal hatinya sendiri.

Begitu pula dengan teman saya ini. Bila dibukukan mungkin akan menjadi kisah true story yang best seller. Dia adalah salah seorang aktivis yang cukup dikenal di kampusnya. Akan tetapi kisah cintanya hanya segelintir orang yang tahu. Dalam hidup ia menganggap cinta hanyalah sebagai tokoh figuran, dan tak terlalu penting, dan memang dalam aktivitasnya di dunia aktivis, cinta memang hal kesekian, dan idealismenyalah yang menjadi nomer satu. Jika dirunut menurut kejadiannya, dan menurut cerita yang disampaikannya kepada saya, betapa ia telah membuang banyak sekali kesempatan. Satu yan gbisa saya tangkap ialah, dia tetap menjaga eksistensi kejombloannya karena ia ingin mendapatkan sensasi untuk diidolakan, disukai, dan dikagumi oleh orang banyak, khususnya kaum perempuan, yang menurutnya tidak bisa didapatkan jika dia sudah mempunyai pasangan. Dan memang ia mendapatkan itu semua. Kedudukannya yang cukup tinggi di organisasi membuat ia banyak dikagumi banyak orang.

Tetapi itu dulu. Dan masanya kini telah lewat.

Sekarang dengan status yang masih sendiri, dia berusaha untuk mendapatkan seseorang disampingnya. Dan yang saya lihat, ia sadar akan kesempatan cinta yang telah dating padanya, dan ia menyesal telah menyia-nyiakan itu semua. Dan kembali lagi, waktu adalah sebuah kendaraan yang tak mempunyai gigi mundur, atau netral sekalipun. Waktu tak akan pernah bisa mundur kembali, waktu tak akan bisa berhenti. Kesempatan yang telah diberikan oleh waktu, dan jika disia-siakan, tak akan pernah ada lagi kesempatan yang sama untuk kedua kalinya. Seandainya kesempatan itu terulang, saya bisa pastikan akan berbeda dari sebelumnya, karena kesempatan itu sendiri akan digerus waktu.

Jadi kesimpulan yang bisa saya ambil dari pengalaman sahabat saya, jangan biarkan idealisme anda berdiri di atas hati anda, tetapi juga sebaliknya, jangan biarkan hati anda menjulang tinggi di atas idealisme. Alangkah baiknya mereka berjalan beriringan, bergandengan tangan dan saling melengkapi.

Setiap makhluk hidup yang mempunyai hati, pasti akan membutuhkan cinta, maka jangan pernah kau sangkal itu.

Sekian.

Advertisements

~ by tulishapsara on March 15, 2011.

One Response to “Idealisme VS Cinta”

  1. rupanya.. dibalik rambut gondrong itu ada cinta cenat cenut hhee

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: