Rasa Yang Terpendam

RASA YANG TERPENDAM
Oleh: H.S.A.S.

Pada saat jam istirahat berlangsung, aku hanya duduk sendirian di mejaku. Suatu kebiasaan yang biasa kulakukan saat uang jajanku habis. Melakukan kegiatan apapun selain belajar. Pelajaran SMA kelas 2 memang sedikit banyak menguras tenaga otakku yang tak pintar ini. Kadang mencoret-coret halaman belakang bukuku, atau mendengarkan musik dari walkman yang diam-diam kubawa ke sekolah, karena membawa walkman memang dilarang di sekolahku. Tapi hari itu aku hanya ingin melamun saja. Tidak berpikir, tidak fokus, dan hanya memandang kosong ke arah papan tulis. Saat pikiranku sedang melayang entah kemana, tiba-tiba aku menyadari bahwa ada seorang cewek yang juga duduk di kelas, dan dia duduk tepat di meja depanku.
Hanis Raspputiadi namanya.
Dia adalah salah satu sahabat baikku. Seseungguhnya aku sudah mengetahui dia sejak masuk SD, karena memang kita terus menerus satu sekolahan sejak SD. Tapi aku mulai mengenal baik dia saat kelas dua, karena kita sekelas, dan kebetulan juga dia duduk tepat di depanku. Sering aku ke rumahnya untuk mengerjakan PR, hmmm, mungkin lebih tepat dibilang menyalin. Saat di kelas pun begitu, kita sering bercanda lepas dan mengerjakan tugas bersama. Pernah aku kepergok sedang menyanyi diam-diam, dan ternyata dia mendengar, ditertawakannya aku karena dia mendengar suaraku yang seperti suara knalpot. Sungguh malu waktu itu.
Kulihat sosoknya dari belakang, dan yang terlihat hanya rambut hitamnya yang lurus dan panjang, dihiasi dengan sedikit uban putih yang terlihat jelas jika dilihat dari dekat. Rambut putih itulah bahan ejekan yang biasa aku lontarkan ke dia.
“Nis, kamu agak putihan deh hari ini ya?”
“Ah,masa sieh, Dhi?” tanyanya sambil tersenyum merona.
“iya bener deh. Ubannya…”
“Arrrrgghhhhhh, dasaaaaar Adhiiiiii!!!!!!!”
Teriaknya sambil melempar buku yang ada di mejanya. Dan akupun terbahak-bahak, dan tiba-tiba berhenti setelah ujung buku yang dia lempar mengenai jidatku. Dan saat pulang ke rumah dia telah mengoleh-olehi aku dengan sedikit lecet yang membekas di jidat.
Tapi senyumnya telah membekas lebih dalam di hatiku.

Kembali lamunanku buyar karena bis malam yang kutumpangi berhenti untuk istirahat makan malam. Kenangan lima tahun lalu itu entah kenapa terbersit di kepalaku. Kenapa selalu dia yang kuingat? Ah sudahlah.
Jogjakarta, kota yang akan aku kunjungi selama liburan kuliah aku di Jakarta. Kota yang juga mempunyai banyak arti bagiku, karena aku pernah merasakan kehidupan disana selama 1 tahun, sebelum aku berangkat kuliah di Jakarta. Perjalanan Jakarta-Jogja kali ini sungguh membuat aku terus teringat kenangan aku, kenangan yang terus-menerus muncul. Tujuanku liburan ke Jogja kali ini adalah bertemu kembali dengan teman-teman lamaku yang telah lama tidak berjumpa.
Termasuk bertemu Hanis. Untuk menyatakan perasaanku yang telah lama kupendam.
Ya, Hanis juga kuliah di Jogja. Setelah lulus SMA entah kenapa kita memilih satu kota yang sama untuk kuliah, sayangnya, aku hanya sempat setahun mengenyam pendidikan yang tak pernah kuselesaikan, karena aku memutuskan kuliah di Jakarta. Dan sekarang sama seperti saya, Hanis juga dalam masa-masa tahun terakhir dia kuliah.
Setelah aku selesai makan malam, tidak lama bis malam yang kunaiki berangkat untuk melanjutkan perjalanannya. Otak reptilku mendominasi, karena setelah makan kenyang, aku mengantuk. Sembari menikmati kelopak mataku yang kadang turun kadang naik, pikiranku kembali bekerja mengenang salah satu momen dengan Hanis di masa SMA.
Saat itu aku sedang mengobrol dengan salah satu sahabatku yang lain, yang juga karib dengan Hanis. Entah bagaimana, tiba-tiba dia berkata kepadaku bahwa Hanis sebenarnya diam-diam menyukaiku. Aku sedikit terkejut mendengarnya, karena memang aku tak berharap seperti itu. Ah, mungkin saja dia berbohong, pikirku.
Di kejauhan aku melihat Hanis di luar berjalan ke kantin melewati kelas tempat aku mengobrol. Dari sudut mataku aku terus melihatnya dengan tatapan penuh arti.
Ya, Hanis memang sahabatku, dan sekaligus menjadikan dia wanita yang kusukai. Aku suka dengannya, karena dengan dia aku bisa menjadi apa adanya aku, tanpa harus menjaga ‘image’ seperti layaknya cowok jika mendekati cewek. Aku merasa sangat nyaman jika berada di dekat dia. Hal ini yang membuat hatiku bergejolak, di satu sisi dia adalah sahabat karibku dan aku tak mau sedikitpun kehilangan dia, ataupun menjauh. Di sisi lain dia adalah cewek yang juga kusukai. Tapi aku memilih untuk menyimpan perasaanku ini dalam-dalam. Aku takut jika kuutarakan perasaanku ini padanya, dia akan sakit hati dan akan menjauh dariku. Aku terlalu takut resikonya. Maka biarlah kita tetap menjadi sahabat, dan aku masih tetap bisa melihat senyumnya, dan biarlah perasaan ini aku rasakan sendiri.
Pada saat aku masih di jogja dulu, kadang aku suka main ke kostannya, hanya mengobrol, bercanda, sesekali jalan. Tapi tak pernah sedikitpun aku menunjukkan rasa ini kepadanya.
Dan itu terjadi lima tahun lalu, hingga kini perasaan itu tak pernah hilang.
Aku sudah tak tahan lagi. Ada perasaan mengganjal dalam hati ini. Aku menjadi merasa egois, karena perasaan ini menggangguku setiap saat. Seperti ada tugas yang belum aku selesaikan. Aku tak mau perasaan ini terus ada dan terus aku bawa. Dan kini aku bertekad untuk memberitahu perasaanku padanya.
Di dalam bis yang melaju kencang ini, akupun tertidur. Sampai saat sang kondektur mengisyaratkan bahwa kita telah sampai di Jogja. Setelah di Jogja, aku dijemput oleh seorang teman yang berdomisili di Jogja, Putra namanya. Selama lima hari aku di Jogja aku menginap di rumahnya. Selama empat hari di Jogja aku habiskan waktu bersama dengan teman-teman lamaku, menghabiskan waktu dengan berbagai macam aktivitas yang dulu kulakukan. Bermain bola contohnya. Walaupun nafasku sudah tak bersisa, karena memang sudah lama aku tak bermain bola, aku senang sekali karena aku masih bisa bermain dengan teman-temanku. Mengelilingi Kota Jogja sambil mengenang masa-masa aku disana dahulu, dan setiap sudut tempat disana memang mempunyai kenangan-kenangan tersendiri. Sebenarnya aku ingin segera menemuinya untuk langsung mengatakan padanya, tetapi rasanya aku belum siap. Aku tak berani.
Sampai satu hari sebelum aku berangkat kembali ke Jakarta, aku masih belum menemuinya. Sore harinya dengan Putra temanku, aku digonceng untuk berjalan-jalan. Dan aku bercerita tentang maksud aku datang ke Jogja. Dan dia berkata bahwa aku bego, dia bilang, “Ngapain aja dari kemaren di Jogja??? Penakut amat sieh!”. Panas juga aku mendengar omongannya. Ya, mungkin aku memang takut. Aku takut resiko yang akan terjadi. Dia menawarkan untuk langsung menuju ke kostannya, dan melaksanakan tujuanku, tapi aku tidak mau. aku memaksa untuk pulang saja ke rumah. Sepanjang jalan menuju rumah Putra, aku terus di’panasi’ oleh dia. Sempat terbesit di pikiran untuk membatalkan rencanaku, pulang keesokan harinya dan menjalani hidupku seperti biasanya.
Tapi aku sudah berjuang sejauh dan selama ini. Aku sudah menunggu lima tahun, sampai berapa tahun lagi aku harus menahan ini? Setelah sampai di depan rumah Putra, segera aku berubah pikiran.
“ Put, kamu duluan masuk ke dalam. Aku pinjem motormu.”
Dan tanpa berkata apa-apa dia pun masuk, sembari tersenyum. Dia sudah mengerti apa yang terjadi. Senyumnya seolah memberikan pesan, “Selamat berjuang, Kawan.”
Akupun segera melaju menuju tempat kost Hanis, aku mengejar waktu karena hari sudah malam sekitar jam delapan malam, sedangkan pintu kostnya sudah harus dikunci jam sepuluh. Dinginnya hawa Jogja di malam hari itu seolah menambah ketegangan yang muncul, bahwa malam ini adalah penantianku selama lima tahun. Akhirnya aku sampai di depan pintu gerbang kostannya.
Dia membukakan gerbang, dan kulihat wajahnya. Senyumnya masih seperti yang dulu. Teduh. Entahlah dengan ubannya, soalnya malam hari tak terlalu terlihat. Sudah cukup lama aku tak bertemu dia. Ternyata dia masih sehangat yang dulu, masih bercanda, masih suka tersenyum dan kita berbincang selayaknya sahabat lama. Keteganganku akhirnya cair oleh sikapnya. Sesaat aku lupa oleh tujuanku. Mungkin karena pengaruh tegang, perutku mendadak lapar. Setelah mengatai aku cacingan, karena badanku kurus tapi lapar terus, kitapun segera pergi ke warung burjo tepat di sebelah kostannya. Dan mie rebus adalah asupan yang pas saat malam hari yang dingin, walaupun terkesan kurang elit. Dengan ditemani dengan teh manis hangat, kita pun masih berbincang ala kadarnya. Aku sempat ingin mengutarakan tujuanku disitu. Beberapa kali sempat aku mencoba memulainya dengan menyapa dia.
“Nis…”
“Apa?”
“……..”
“Apaan sieh?”
“Besok kuliah?”
Gagal. Beberapa kali aku mencoba, tapi di bibir ini yang keluar justru pertanyaan lain. Dalam hati aku berkata, momentnya belum pas. Keberanianku masih 90 persen, setengah mati aku mengumpulkan sisa 10 persennya lagi. Lagipula suasananya belum pas. Suasana apa sih yang diharapkan kalau di meja sebelah ada dua Oom-Oom memakai kupluk dan sarung, sambil ngerokok, yang gerak geriknya menunjukkan bahwa salah satu telinganya berkonsentrasi mendengarkan apa yang kita bicarakan, lalu belum lagi suara wajan penggorengan yang berteriak nyaring karena sang penjual sedang membuat nasi goreng. “Sssssssssshhhhhhh” berpadu dengan suara sutilnya yang mengaduk-aduk nasi. Perpaduan yang harmonis.
Setelah aku membayar semuanya, kita pun berjalan pulang. Ternyata waktu sudah menunjukkan hampir pukul sepuluh. Sepertinya waktu perjumpaan kami sudah hampir berakhir, dan kita berdiri di pintu gerbang. Selain berbicara, aku menangkap suatu gerak tubuh dan mimik wajah yang menunjukkan bahwa dia tak ingin aku pergi dulu. Waktu kurang dari dua jam ini belumlah cukup untuk melepas rasa kangen yang masing-masing kita rasakan. Sempat kita terdiam cukup lama untuk merasakan perasaan masing-masing dan menghayatinya, sampai akhirnya sang penjaga gerbang mengingatkan bahwa pintu gerbang akan dikunci.
Yup, disaat-saat terakhir inilah mentalku ternyata siap 100 persen. Nothing to lose. Aku membuka percakapan.
“Nis, ada yang mau aku omongin sama kamu.”
“kenapa Dhi? Cepetan yah, itu Oom-nya udah nungguin, gerbangnya mau dikunci soalnya.”
Aku tarik tangannya keluar gerbang, supaya aku bisa berbicara. Aku nggak mau diganggu Oom-Oom untuk yang kedua kalinya. Akupun berbicara tanpa terputus.
“Hanis, dengerin aku ngomong dulu yah. Maaf sebelumnya. Sebenernya aku suka sama kamu dari dulu. Sengaja aku simpen perasaan ini sama kamu, karena aku ngga mau persahabatan kita rusak gara-gara hal seperti ini, tapi sejak SMA sampai sekarang, udah lima tahun aku nahan. Sulit untuk buat ngebuka hati aku, karena kamu. Kadang aku terpikir tentang kamu, meskipun kadang aku nggak mengakuinya, tapi nyatanya aku memang teringat kamu. Dan sekarang aku sampaikan perasaanku ini sama kamu, bahwa aku menyukaimu sejak dulu. Ini bukan pertanyaan buat kamu, ini pernyataan, kamu nggak perlu jawab apa-apa, kamu hanya perlu mendengarkan ini. Dengan begini kamu jadi tahu perasaanku yang sebenarnya ke kamu. Aku harap setelah ini, kamu tetap menjadi sahabat aku, dan aku ngga mau kamu menjauh dari aku, tetaplah kita sebagai seorang sahabat seperti yang dahulu kita jalanin.”
Perasaanku lega. Aku sudah mengatakannya. Ini adalah klimaks dari perasaanku yang sedari dulu tertahan, lalu sekarang lepas sudah. Bebanku hilang.
Hanis hanya terdiam, sepertinya dia kaget sekali dengan apa yang aku katakan.
“………………….”
“Nis?”
“…………..”
Dan terucaplah kata-kata yang sama sekali tidak aku sangka,
“Kenapa ngga dari dulu, Dhi?”
Giliran aku yang terdiam.
“……………………….”
Kemudian dia menjelaskan, “Dhi, sebenernya dulu aku juga suka sama kamu, aku juga udah berharap sama kamu, aku udah membuka hatiku untuk kamu, aku udah nunjukin sikap aku sama kamu, tapi memang dulu kamu ngga ngerespon aku. Bahkan sebelum kamu pindah ke Jakarta, dan masih kuliah disipun, aku masih berharap sama kamu. Lalu aku berpikir kamu hanya nganggap aku teman biasa aja. Akhirnya aku mulai menyerah Dhi. Dan akhirnya aku memastikan hati aku, bahwa kamu hanyalah seorang sahabat bagi aku, dan aku udah cukup bahagia dengan itu. Makasih banget ya, udah sampai sini untuk ngungkapin perasaan kamu ke aku. Tenang aja koq, kita masih sahabatan seperti dahulu.”
Aku terdiam terpana cukup lama, seperti halnya Hanis. Kami meresapi setiap hembus nafas yang tercipta dari masing-masing anak manusia yang seperti dipertemukan kembali, hingga akhirnya gerbang pun tertutup karena waktu itu jam sudah menunjukkan pukul sepuluh lebih.. Tenyata kita saling memendam perasaan kita masing-masing. Kita selayaknya sepasang manusia yang membutakan dirinya sendiri terhadap rasa yang seharusnya kita bagi. Aku menatap dalam matanya yang berkaca-kaca, kulihat ada rasa sesal disitu. Sesal oleh karena aku.
Tapi dia tetap tersenyum.
Akupun kembali pulang diiringi oleh senyumannya. Iya, senyuman Hanis di malam itu adalah senyuman terindah yang pernah kulihat selama ini.
Dan dia belum pernah secantik hari itu.
Rasa sesal datang, lambat laun makin membesar dan menguasaiku. Ketidakberanianku sedari dulu mengakibatkan aku tidak mendapatkan apa yang seharusnya bisa aku dapatkan. Jika saja aku mengungkapkannya sejak dulu. Andai saja aku pernah mencoba mendekatinya. Andaikata dia pun tahu perasaanku dulu. Bisakah aku ulangi lagi waktu? Berulang-ulang kata-kata harapan ini terulang-ulang di kepalaku di perjalananku pulang.
Malam itu aku tidur setelah sebelumnya menatap kosong pada langit-langit kamar. Sayup-kudengar sebuah lagu D’Cinammons – Semua Yang Ada.

Jauh hari kumerasa kau nanti pasti jadi milikku
T’lah terjadi semuanya, kuyakin kau nanti disisiku
Tak perduli apa kata yang lain hati ini hanya ingin dirimu
Dan kini maafkanlah aku terlanjur ingini, terlanjur sayangi semua yang ada
Sudikah kau terimaku? Terlanjur sayangi, terlanjur ingini semua yang ada di dalam dirimu
Kuterima keputusanmu tak akan, ku tak akan menyesal
Kuakui kupaksakan ku bukan manusia sempurna
Andaikan ku bisa berpaling dari dirimu
Lemas hati ini jika aku harus memilih lagi

Keesokan harinya sebelum aku pulang kembali ke Jakarta, aku ingin kembali ke tempatnya untuk berpamitan terlebih dahulu. Aku ingin dia tahu bahwa aku masih mengharapkannya. Dan jujur saja, setelah kejadian semalam, aku merasa bahwa aku harus mendapatkannya. Akan aku mulai lagi dari awal. Aku merasa yakin kalau dia masih menyimpan perasaan yang sama seperti yang aku simpan selama ini. Karena itu aku akan berjuang.
Setelah sampai, pagi itu aku berdiri di depan pagar persis seperti semalam. Saat aku hendak masuk, pemandangan yang kulihat di sela-sela pagar itu membuatku lemas. Di depan kamar Hanis telah berdiri sesosok laki-laki, yang seperti sedang menanti Hanis. Kulihat Hanis membuka pintunya, tiba-tiba laki-laki itu mencium keningnya. Hanis pun tersenyum bahagia. Senyumnya masih meneduhkan, tapi senyum itu bukan lagi untukku.
Aku pun pergi diam-diam tanpa sepengetahuan mereka.
Di dalam bis dalam perjalanan pulang ke Jakarta, aku mendapati diriku larut dalam penyesalan yang dalam. Kepalaku menyender lemas di jendela. Perasaan yang telah kulepaskan memang melegakanku, beban yang lima tahun kutanggung terlepas. Akan tetapi ruang kosong tersebut diisi kembali oleh ribuan rasa sesal yang jauh lebih berat dari sebelumnya, yang akan kupanggul sendiri.
Tanpa terasa air mataku menetes di pipi, melewati kaca jendela dan membuat satu guratan garis air disitu.

Advertisements

~ by tulishapsara on October 28, 2011.

One Response to “Rasa Yang Terpendam”

  1. iya dhi…knp g dari dulu???heee…penyesalan emang datengnya belakangan….

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s