Kasembon Rafting

Akhirnya setelah punya mainan baru, saya bisa bermain dengan kata-kata lagi. Untuk mainan baru ini, akan saya ceritakan di sesi yang berbeda. Ada satu cerita yang dari 3 minggu kemaren sebenarnya saya pengen cerita banget, tapi waktu itu, laptop yang lama saya lagi error parah, oleh sebab itu tertunda deh.

Batu adalah kota wisata, yang mana tempat wisatanya sendiri menyebar ke berbagai tempat di kota itu, baik wisata siang hari, malam hari, ataupun wisata kuliner. Tetapi ada satu tempat wisata yang sport ekstrim di daerah Kasembon, yaitu Rafting atau arung jeram.

Kasembon sendiri terletak di sebelah Barat Batu, yang berjarak sekitar 100 kilometer, cukup jauh memang. Berada diantara Batu dan Kediri, dengan perjalanan yang memotong gunung, berliuk-liuk seperti ular naga panjangnya, dan perjalanan yang bisa menempuh kurang lebih 2 setengah jam menuju kesana, tak heran emak saya mabok, hehehe!

Ide dimulai saat kita sekeluarga menyayur di rumah tanpa ada kegiatan satupun, akhirnya terbersit di benak adik saya agar melakukan aktivitas yang sedikit ekstrim, Rafting.

Waktu itu saya mengajak ibu saya supaya ikut, dan respon pertamanya ialah, “Rafting kuwi ophoo?” yang diartikan sebagai, “Rafting itu apa?” Dengan penjelasan sekenanya, dan daam tempo yang sesingkat-singkatnya, akhirnya ibu saya pun ikut. Jadi total keluarga yang ikut adalah 5 orang, antara lain saya, Ganesha (adik saya), Adel (ipar saya), Siwi, dan ibu saya.

Keesokan harinya kami berangkat dengan beberapa persiapan. Jangan lupa membawa baju ganti, dan alat mandi sekalian, soalnya pasti basah-basahan. Kami berangkat sekitar pukul 09:00. Setengah perjalanan, ibu saya mabok, dan ‘jackpot’, karena memang jalannya yang memang berbelok-belok serta naik turun. Sesampainya beliau misuh-misuh, menyalahkan saya karena mengemudinya tidak ‘smooth’, dan menyuruh Ganesh yang menyetir ketika pulang nanti. Ya sudahlah, saya juga tidak capek.

Pendaftarannya sendiri dikenakan biaya Rp. 150.000,- hanya Rafting saja. Di Kasembon Rafting tersebut memiliki banyak paket selain rafting, ada paket menginap di pondok selama 3 hari 2 malam, paket Off Road dengan menggunakan mobil off road tentunya (masa pake sepatu roda?), berkemah, dan masih banyak lagi. Fasilitasnya pun lengkap, ada tempat makan prasmanan, lalu kamar mandinya juga bersih, lingkungannya pun bersih udaranya segar, karena memang asli pedesaan (whong disekelilingnya saja sawah-sawah semua). Pokoknya suasananya asik untuk berlibur.

Pertama-tama kami diharuskan memakai safety tools, antara lain Helmet dan baju pelampung (life vest), lalu dibekali juga dengan sebatang dayung plastik tapi keras (jangan sekali-sekali mukul orang). Setelah itu kita diantarkan ke titik start. Sebelum sampai, sang instruktur menjelaskan secara teori tentang bagaimana duduk di perahu karet dan aba-aba sang instruktur, antara lain, “belok kanan”, “belok kiri”, “ Boom”, dan lainnya. Maksudnya ‘boom’ adalah di depan ada air terjun, nggak tinggi sieh, sekitar 3 meter aja (katanya), jadi kita harus membuat posisi aman, tali mana saja yang harus dipegang, posisi badan, dan posisi kaki.

Sebagian besar sieh mengerti, tapi tetap saja, belajar teori lebih lambat masuk daripada belajar praktek khan?

Akhirnya kita diatur tempat duduk, ada 4 baris kebelakang. Di depan saya bersama Siwi, yang kedua ibu saya sendiri, jadi posisi duduknya di tengah, otomatis tidak mendayung, dibelakangnya Ganes dan istrinya, lalu yang paling belakang sang instruktur. Airnya sendiri kurang jernih ya, berwarna kecoklatan gitu, seperti sungai pada umumnya, tetapi airnya sangat deras, mungkin bekas hujan kemarin, sehingga Raft berjalan cukup kencang. Sekitar 20 meter dari titik start, ada ‘Boom’ yang cukup dalam, soalnya ada suara ‘Grujuk… Grujuk’ yang terdengar nyaring.

Disitulah tragedi dimulai.. jreng jreng jreng!

Di mulut air terjun yang tingginya sekitar 3 meter itu, sang instruktur berteriak, “BOOOOOOOOOOM!!!!!” lalu kita berubah ke posisi rebahan, dan “BYUUUUUUR!!!” perahu itupun terjun (tapi nggak kebalik, ngarep yak??). setelah sampai di bawah, posisi kita berantakan semua, nggak jelas. Muka ibu saya tertabrak pundak saya, dayungnya ganes hanyut, Siwi yang terjerembab. Lalu Adel pun merintih, mengaku kakinya nggak kerasa. Sang instruktur pun mendorong Raft menuju pinggir dan istirahat sebentar. Dia geleng-geleng, ternyata kita semua tidak berada di posisi yang sempurna. Setelah menjelaskan posisi yang benar, kita pun berangkat lagi.

Setelah Boom yang pertama tadi, ada lagi boom lain, tapi nggak setinggi yang tadi, dan Boom itu juga buatan, jadi enak buat dilewati, sedangkan yang pertama tadi Boom alami dengan batu-batu yang bertonjolan kemana-mana sebagai aksesorisnya. Ternyata kalo posisinya oke, melewati Boom ternyata enak. Setelah melewati beberapa jeram yang cukup deras, dan bermain air dengan Raft lain, kita istirahat.

Kita naik ke pinggir sungai, disana ada pondok kecil, dan telah disediakan snack, yaitu kopi dan gorengan. Gorengannya sendiri keras, maka saya cuma minum kopi saja, ada air jahe juga lhooo… ternyata Lia setengah mati keluar dari perahu. Kakinya yang sebelah kiri bengkak parah, dan nggak bisa berjalan. Akhirnya oleh sang instruktur, disarankan agar tidak ikut melanjutkan, dan segera berobat untuk di cek kondisinya. Setelah melalui bujuk rayu yang cukup sengit, akhirnya diapun diantar berobat, dengan menggunakan mobil Off Road!!!

Perjalanan kita lanjutkan tanpa Adel, sekitar satu jam perjalanan dan berbagai macam Boom dan jeram, seru sekali lho, kalian harus mencobanya, soalnya Kasembon Rafting ini termasuk dalam level yang standar laah kalo menurut saya, soalnya tidak begitu ekstrim, whong ibu saya saja yang udah emak-emak (ya iyalah) ketawa-ketawa aja koq. Memang sungai ini melewati pedesaan dan rumah penduduk, jadi pemandangan yang kita lihat ya, lumayan banyak aktivitas warga desa itu, mulai dari mencuci baju, mencuci pakaian, mencuci celana, mencuci daleman, ada yang mandiin sapi!! Lalu ada orang gila yang ‘hampir’ telanjang di pinggir kali. Serem juga ya?

Total waktu yang ditempuh sekitar 2 jam, itu kita udah puas banget lhoo. Setelah tiba di titik finish, kita diantar lagi dengan mobil bak terbuka menuju titik start, karena disitu base campnya. Setelah mandi dan bersih-bersih, disediakan makanan ala pedesaan, yang juga hari-hari saya makan di rumah (halaaah). Hehe!tak beberapa lama, Adel pun datang, ternyata kaki kirinya retak, dan sendi lututnya bergeser, hal itu mungkin dikarenakan kakinya yang tidak bisa menahan bobot tubuhnya. tetapi dari pihak Kasembon Rafting sendiri sangat bertanggung jawab, karena memang peserta diasuransikan. jadi setelah diobati, yang mana ialah diurut, kita tidak membayar sepeserpun untuk pengobatan.

Overall, tempat liburan ini menjadi wisata tersendiri bagi yang ingin sedikit ekstrim. Perjalanan yang jauh pun terbayar koq dengan suasananya.. kalo mau yang ekstrim banget juga ada, nggak usah jauh-jauh, di Batu ada Paralayang koq, tapi saya sendiri belum nyoba, masih nabung mental dulu.

Kalo mau melihat info lengkap dari Kasembon Rafting, buka saja websitenya di http://www.raftingkasembon.com

Selamat berlibur.. ☺

Advertisements

~ by tulishapsara on February 11, 2012.

2 Responses to “Kasembon Rafting”

  1. Ini Batu Malang kah maksudnya Hap.. 🙂

  2. Iya, Batu Malang, cuma Kasembon tuh 2 jam dari Batu, agak jauh sieh…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: