Cuap2 29 Maret 2012

Hari ini, tanggal 29 Maret 2012.
Dan hari ini adalah hari dimana umur saya bertambah secara resmi, hari dimana 27 tahun yang lalu seorang anak yang belakangan dinamai Hapsara Soma Adhi Sasangka telah lahir ke dunia dengan diawali tangisan cemprengnya.
Dan sekarang, anak itu telah tumbuh menjadi seorang pemuda yang luar biasa tampan dan rupawan, kata saya. Dan sayangnya pernyataan yang saya buat tersebut disangkal oleh hampir semua orang yang mendengarnya, yah, kecuali satu orang teman saya yang sebelumnya saya sogok Rp. 20.000 dan semangkuk mie ayam. Kembali ke pokok masalah. Di usia yang sekitar seperempat abad lebih ini, manusia-manusia pada umumnya rata-rata sudah mempunyai keluarga, menikah maksudnya. Dan sebagian juga ada yang belum, seperti saya contohnya.
Banyak alasan-alasan yang mendasari seorang laki-laki untuk tidak atau belum menikah di usia seperti saya. Belum ingin terikat, masih ingin sendiri, masih ingin berfoya-foya. Percayalah, jika ada seorang pria yang mempunyai alasan yang saya sebutkan tadi itu adalah alasan klise. Lagu lama. Itu bukan alasan mereka, mereka hanya beralasan seperti itu hanya karena mereka masih mementingkan harga diri, sehingga alasan tersebut terucap.
Bagi laki-laki yang sudah mapan, dalam arti sudah mempunyai pekerjaan, tempat tinggal, dan kendaraan, setidaknya tiga faktor itulah yang menjadi standar sukses bagi pria-pria Indonesia, sangatlah tidak lengkap jika tidak ada seorang pendamping baginya untuk menjalani hidup. Ketiga faktor itu rasanya menjadi tidak ada gunanya jika tidak mempunyai pasangan. Maksudnya, apa sieh yang loe cari lagi???

Jadi sekarang, galau tidak hanya melanda anak ABG saja, ternyata juga pria-pria tersebut (wanita juga ada, tapi maaf, bukannya bermaksud memihak gender, tapi ini dari pengalaman saya, dan terakhir saya cek, saya masih seorang pria). Banyak pria pada umur pra 30-an yang masih belum mempunyai pasangan, padahal mereka sangat ingin, ditambah lagi dengan faktor keluarga, serta kerabat dekat yang selalu bertanya, “Kapan?” Bagi para pembaca yang mempunyai saudara seperti diatas, jangan sekali-sekali bertanya seperti contoh diatas kepadanya. Percayalah, itu tidak akan banyak membantu, dan tidak baik bagi kondisi psikologisnya. Pria-pria tersebut menyadari setiap mereka bangun pagi dan memiliki status sama seperti hari kemaren, dan waktu terus berjalan seiring bertambahnya usia, itu akan membuat mereka semakin berpikir pendek. Ada lelucon lama yang saya ingat,
15 tahun, “Siapa gue?”
25 tahun, “Siapa elu???”
35 tahun, “Siapa ajalah….” -___-‘’
Semua orang pasti tertawa mendengarnya, tertawa karena fakta itu benar adanya, tertawa karena kita pernah mengalaminya.
Tertawa, dan kita menyadari, kita menertawakan diri kita sendiri.
Saya pernah sampai pada usia krisis itu, krisis dimana keeksisan kita sebagai seorang laki-laki mulai dipertanyakan, hingga timbul pertanyaan, “Kenapa saya belum menikah? Kenapa tidak ada wanita yang tertarik kepada saya? Apakah saya kurang sukses? Apakah saya kurang tampan?”
Untuk menghilangkan pertanyaan-pertanyaan diatas, maka kata terakhir di lelucon di atas dilaksanakan, “Siapa ajalah…”
Pendek kata, Pria-pria tersebut mulai menurunkan standar, menerima apa yang temukan, dan segera mencari pasangan, secepatnya.
Hal diatas tidak salah. Tapi apakah pria tersebut merasa bahagia dengan pilihannya? Tidak. Pilihan tersebut dicapai bukan untuk memuaskan rasa bahagianya, tetapi untuk membahagiakan orang disekitarnya, yang peduli terhadapnya. Poin utama yang ingin saya ungkapkan disini adalah, anda sendiri tidak peduli terhadap diri anda, terhadap hati anda.
Saya pernah mengalami hal seperti diatas, dan tanpa mengurangi rasa ketampanan saya yang melegenda, saya mulai mencari apa yang bisa saya lihat, bukan mencari apa yang saya bisa rasakan dengan hati, kemudian saya sampai pada peperangan, peperangan yang semenjak manusia mempunyai perasaan, mereka sudah bertempur, peperangan yang sudah ada pada saat Adam dan Hawa hidup ke dunia.
Hati dan logika.
Dan percayalah, sangat sulit untuk memilih apa yang harus dipilih. Banyak film, puisi, lagu, dan apapun karya manusia yang tercipta dari peperangan dua ‘binatang’ di atas. Dan rata-rata semuanya laku keras.
Siapa yang akhirnya menang? Tentu saja hati. Anda tidak percaya? Silahkan buktikan sendiri. Saya tidak menantang anda, tetapi saya beri anda kesempatan untuk menyadari mana yang lebih penting.
Banyak orang yang juga tidak menyadari kata hatinya sendiri. Maka pekalah sedikit. Kadangkala orang yang kita cari bahkan ada di dekat kita, dan kita tidak sadari. Dan ketika sudah terlambat untuk menyadari, orang tersebut sudah pergi dari sisi kita. Pedih khan?
Maka akhir kata untuk menutup pembicaraan saya di hari ulang tahun saya ini, dengarlah hati anda berbicara, karena hati anda tak akan pernah bisa berbohong, dan hati anda tahu, apa yang terbaik buat anda. Yang harus anda lakukan adalah sedikit lebih peka, dan tentu saja, berdoa.
Antiklimaks ya, biarin…

H.S.A.S.

Advertisements

~ by tulishapsara on April 8, 2012.

One Response to “Cuap2 29 Maret 2012”

  1. 🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: