Industri Rokok di Negara Berkembang

Sebelum membaca artikel ini, harap mempersiapkan diri anda, karena topik yang dibahas disini agak berat, oleh karena itu, disarankan agar membawa serta teman anda untuk membantu mengangkatnya.
Penting atau tidak bagi anda, saya akan menginformasikan kepada khalayak ramai bawa saya telah berhenti merokok untuk (kalo bisa) selama-lamanya. Kenapakah? Apakah saya sudah bosan? Sudah kenyang?
Sekitar seminggu yang lalu saya mendapatkan sebuah video Youtube yang berasal dari akun Facebook teman saya, saya lupa judulnya, tapi sudah saya link di status saya kemarin. Yang jelas video ini bercerita tentang sebuah riset yang dilakukan oleh wartawan Amerika Serikat tentang industri rokok di negara-negara berkembang, dan yang dibahas disini adalah Indonesia. Kesimpulan yang bisa saya ambil dari video yang berduarsi sekitar 40 menit itu adalah, tragis. Kenapakah? Okeh, saya akan coba ceritakan sebab musababnya kenapa saya berkata seperti itu.

Pada awal video ini diceritakan bahwa Amerika Serikat sebagai negara maju, dalam satu dasawarsa terakhir ini mencoba untuk menekan, kalau bisa menghilangkan budaya merokok di negara tersebut. Berhasilkah? Iya, bahkan bisa dibilang sangat sukses, walaupun masih ada warganya yang merokok. Berdasarkan riset yang dilakukan, pada awal 90an, warga Amerika yang merokok sekitar 50 – 60 % dari total warganya, tapi sekarang pada akhir 2010, hanya tersisa sekitar 10 % dari mereka yang merokok, it’s amazing right?
Di suatu kios di pojok kota New York, rokok Marlboro dihargai 13 $, atau sekitar 120 ribu rupiah. Harga tersebut sangat mahal karena diciptakannya Sin Tax, terjemahan secara harfiahnya adalah Pajak Dosa. Defenisinya adalah, produk yang terhitung berbahaya bagi kesehatan seperti rokok, minuman keras dan lainnya akan dikenai pajak tersebut, dan pajak tersebut tidak main-main, sangat tinggi, sehingga para konsumen akan berpikir dua, tiga, atau bahkan sepuluh kali jika akan membeli produk tersebut.
Dua ikon rokok yang paling terkenal sepanjang masa di Amerika bahkan dikorbankan. Saya lupa yang satunya, tapi satunya saya hafal, karena pria itu juga diiklankan di Indonesia dengan gencarnya. Marlboro Man. Seorang pria koboi yang sangat gagah, mengendarai kuda, dan tagline terakhirnya, “Welcome to Marlboro Country.” Oleh Amerika, image tersebut dihapuskan, sehingga tidak ada lagi Marlboro Country disana.
Tapi tidak di negara kita.
Coba anda perhatikan, tidak usah jauh-jauh, cukup disekitar anda saja. Saya bertaruh, pasti anda bisa menemukan satu saja iklan rokok. Di pinggir jalan, di televisi, di kios-kios, di warung, bahkan department store. Ya, produsen rokok telah menguasai setidaknya 80 persen dari seluruh iklan yang ada. Bisa anda bayangkan? Tidak salah di Indonesia sekarang rokok menjadi sebuah gaya hidup, gaya hidup yang tidak sehat. Saya bisa buktikan sekarang. Saya sedang berada di sebuah kedai kopi di suatu mall yang cukup ternama di Malang, saya memesan secangkir kopi, untuk membayar sofa nikmat yang saya duduki untuk menulis artikel ini, tapi tidak hanya kopi yang ia sajikan, tetapi juga sebuah asbak, padahal saya tidak meminta.
Rentang umur para perokok juga sangat luas, dari anak kecil hingga orangtua, hampir tidak ada batasan umur bagi para perokok. Sangat ironis mengetahui bahwa menurut kesaksian salah satu produsen rokok, mereka hanya menargetkan konsumen 17 tahun keatas, tapi ternyata? Dan ironisnya lagi, mereka tidak mau bertanggung jawab untuk itu. Di video itu ditampilkan orang dewasa yang merokok, remaja, anak sekolah yang memakai seragam, anak kecil, hingga balita!
Wartawan ini tertarik pada sebuah kasus yang terjadi di Indonesia, yaitu balita yang merokok. Dia mendapatkan informasi itu dari Youtube, menampilkan seorang anak balita yang gemuk sedang merokok seperti orang dewasa. Ia memainkan rokoknya dengan tangan, memutar-mutar dan menghisapnya lagi, sangat ahli. Bahkan saya yang dulunya merokok pun tidak bisa memainkan sebatang rokok tersebut. Balita tersebut tinggal di pedalaman Propinsi Lampung. dan wartawan inipun berkunjung ke Indonesia.
Menyaksikan begitu gencarnya produsen rokok yang menyerang negara kita, ia sangat sedih. Melihat diijinkannya kios rokok tepat berada di depan gerbang suatu SMA, mendengar komentar, “I wanna be a Coboy” Ketika salah seorang murid SMA ditanya, kenapa merokok, melihat begituuuu banyak iklan rokok di setiap sudut jalan. Ia bahkan heran, ada satu baliho LCD yang terletak di sudut perempatan jalan terkenal di Jakarta, yang secara 24 jam menayangkan iklan rokok, melihat acara Jazz terbesar di Asia Tenggara disponsori oleh sebuah perusahaan rokok. Melihat tagline, “Go Ahead” salah satu produsen rokok yang seakan berkata, “Go ahead, pick your ciggarette” atau dalam bahasa Indonesianya, “Silahkan, merokoklah” Dan yang tak kalah sedihnya, ketika ia pergi ke Lampung dan menjumpai balita itu.
Dia sangat peduli dengan situasi itu, sampai-sampai ia membawa balita itu dan kedua orangtuanya ke Jakarta untuk menjalani rehabilitasi selama sebulan, dan akhirnya balita itu tidak mau lagi merokok. Begitu jahatnya para stasiun televisi yang begitu gencarnya menayangkan balita tersebut ketika ia merokok, tapi apakah ada stasiun televisi yang menayangkan bagaimana ia menjalani terapi dan sekarang sudah sembuh dan tidak lagi mengalami ketergantungan dalam merokok? Apakah anda pernah melihat itu di stasiun televisi manapun? Bahkan mungkin sampai sekarang anda masih berpikir bahwa balita itu tetap merokok sampai sekarang.
Saat wartawan itu berkunjung ke Indonesia, ia ditemani oleh salah satu aktivis anti-rokok, seorang wanita yang berhati sangat mulia. Ia begitu peduli dengan generasi muda, sehigga secara non-profit, ia melakukan seminar, atau penyuluhan ke sekolah-sekolah agar para murid SMA tahu betapa bahayanya rokok itu, baik aktif maupun pasif. Ia bercerita bahwa sewaktu ia lulus SMA dulu, ayahnya adalah perokok berat. Oleh sebab itu, ayahnya dihadapkan pada pilihan yang sangat berat, anaknya memaksa, jika beliau terus merokok, maka ia tidak akan melanjutkan ke jenjang kuliah. Kasarnya, rokok atau kuliah. Sambil berlinang air mata, ia bercerita bahwa akhirnya ayahnya memilih untuk berhenti merokok, sampai sekarang, dan itu adalah anugerah terindah yang pernah dia alami.
Kemudian ada satu adegan lain dimana pada tahun 2009 atau 2010, Di jakarta diadakan Worlds Tobacco… (terusannya saya lupa), intinya adalah para produsen rokok dunia bertemu pada acara tersebut dan membahas tentang kelangsungan bisnis rokok mereka. Didalam gedung tersebut sangat ramai berisi oleh para pria-pria bisnis yang menggunakan jas, rapi, dan sangat berkebalikan dengan apa yang terjadi di luar pagar. Para pendemo anti-rokok yang menuntut dibubarkannya acara tersebut tidak digubris oleh mereka yang di dalam. Kemudian hal yang tidak direncanakan terjadi. Para finalis Miss Indonesia datang dan mengkampanyekan gerakan anti-rokok. Mereka diijinkan masuk, dan tentu saja kesempatan bagi wartawan Amerika ini. Para Miss Indonesia ini akhirnya diusir kembali keluar setelah sebelumnya mereka bersitegang dengan para produsen rokok. Mereka mempunyai alasan sendiri kenapa bisnis rokok ini harus terus berjalan. Kata mereka, hampir 4 juta warga Indonesia akan kehilangan lapangan kerjanya karena industri rokok ditutup. Iya, mungkin saja mereka benar. Pemasukan negara akan pajak rokok akan jauh berkurang, dan bertambahnya pengangguran akan terjadi. Tapi ternyata itu hanya efek jangka pendek saja yang buruk. Sekarang coba bayangkan, hampir 50 % lebih penduduk Indonesia merokok, apa yang akan terjadi setidaknya 15-20 tahun mendatang? Penyakit kanker dan lainnya mungkin menjadi hal yang lumrah. Akibat bertumpuknya racun-racun dari rokok tersebut. Bisakah anda bayangkan setengah jumlah penduduk Indonesia memiliki resiko penyakit itu? Belum lagi para perokok pasif? Sekarang hitung biaya pengobatan penyakit itu, dan kalikan dengan setengah jumlah penduduk Indonesia, itulah pengeluaran yang harus dikeluarkan rakyatnya oleh karena rokok, disamping itu kesehatan juga dikorbankan. Usia produktif kita akan menurun, dan berdampak lebih jauh dan lebih hebat lagi. Kalau saja kita sadar, bahwa 4 juta rakyat Indonesia masih belum seberapa.
Maka kita sebagai negara berkembang, mulailah dari kesehatan kita sendiri. Mulailah dari diri sendiri.
Sekarang saya tetap berada di lingkungan para perokok. Beberapa bahkan mengajak saya agar kembali merokok. Terbujuk? Sedikitpun tidak. Setiap tarikan rokok yang saya lihat dari orang-orang di sekitar saya dan mereka menikmatinya, semakin membuat saya sadar betapa kita dibodohi oleh sugesti para pengiklan rokok.
Setiap saya lihat hembusan rokok dari mulut-mulut mereka, membuat saya prihatin, bahwa masa depan Indonesia terbuang sedikit demi sedikit, seburam asap yang mereka buang.

H.S.A.S.

Advertisements

~ by tulishapsara on April 8, 2012.

2 Responses to “Industri Rokok di Negara Berkembang”

  1. Yup.. saya sangat setuju Bung Hapsara..
    Prihatin en pengen Indonesia bebas rokok..
    Salah satu pembodohan & kebodohan terbesar yg ada di negeri ini..
    Pernah pikirkan tidak ttg peristiwa bbrp waktu lalu mengenai demo rencana kenaikan bbm? Menstate bahwa byk rakyat miskin.. tp coba lihat, bangsa kita ga segitunya.. rata2 bs dg mudahnya membakar uang untuk suatu hal yg sangat ga penting.. ironi bukan?
    Yg jelas memang kudu ada pelaku2 langsung di lapangan.. setiap kita yg sadar, yo ayo ga merokok ato berhenti merokok..
    Saya percaya akan ada kebaikan bagi bangsa kita, ketika kita mulai sadar dan memerangi rokok.. 🙂

  2. setuju gimanapun rokok bener2 buruk pada tubuh
    dan satu lagi Indonesia tercoreng juga kan pada akhirnya ????
    saran aja nih, artikelnya ditambah dg pmbhasan ttg perokok pasif juga, soalnya risiko si pasif lebih besar ketimbang si aktif itu sendiri

    terimakasih

    Lets say Stop SMOKING !!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: