Cerpen: RECEHAN by H.S.A.S.

Santi sedang menikmati beberapa suapan terakhir makan siangnya di meja makan yang terletak di ruang tengah, saat ia melihat ke kamarnya. Kamar kost yang ia tempati 2 bulan terakhir itu memang cukup nyaman. Beberapa bulan kemarin memang Santi cukup kerepotan mencari kostan yang dekat dengan tempat tinggalnya di bilangan Jakarta Pusat, tapi ia merasa tidak cocok, baik itu dengan harganya maupun kamarnya. Tapi sekarang saat ia melihat kamarnya, ia begitu puas, karena dengan harga yang terbilang cukup miring, ia bisa mendapatkan kamar yang luas dan nyaman, serta ditambah dengan teman-teman barunya yang menyenangkan. Meskipun begitu, kadang ia merasa cukup aneh saat berada di kamarnya sendiri, tapi ia maklum, mungkin proses adaptasi yang membuatnya begitu.
“San! Bengong aja lu! Nasinya tuh ngeliatin elu, abisin cepet, katanya mau ke mall bareng?” cerocos Rina, teman kostnya, yang kamarnya tepat di sebelah kamar Santi.
“Oh iya, bentar yah…” Ucap Santi sembari menyelasaikan makan siangnya, ia ingat kalau ia janji akan pergi ke mall bersama-sama dengan Rina, sejak model sepatu baru dari brand yang ia sukai telah muncul di salah satu mall, ia ingin segera melihatnya, dan kalau mencukupi, ia akan membelinya.
“Gimana,tidur lu enak semalem?” tanya Rina sambil mencomot kerupuk di atas meja.
“Biasa aja, emang kenapa?” Balas Santi.
“Nggak apa-apa. Gue tunggu di luar ya..” Rina melangkah ke luar dengan kerupuk hampir memenuhi mulutnya.
Kembali Santi berpikir, ada yang aneh dengan kostan ini, khususnya dengan penghuni kostan. Pertanyaan “Tidur lu enak semalam” mungkin terasa wajar bagi kebanyakan orang, tapi tidak kali ini. Karena dalam 2 bulan Santi menempati kostan ini, sudah lebih dari 20 kali pertanyaan itu muncul dari hampir semua penghuni kamar-kamar lain. Sedangkan saat ditanya alasannya, semuanya menutupi dengan kesan wajar yang dibuat-buat. “Ada yang mereka sembunyikan dari gue, dan gue harus tahu apa itu, cepat atau lambat.” Ujar Santi dalam hati sambil mengambil tasnya, lalu menyusul Rina yang menunggu di luar.
Awal minggu ini Santi cukup sibuk dengan pekerjaannya yang cukup menumpuk, karena pada akhir tahun, Santi harus membuat laporan tahunan dari kantor, kadang ia malah membawa pekerjaan itu untuk dilanjutkan di kamarnya. Kadang ia bekerja hingga larut, sehingga membuat kondisinya agak sedikit lelah.
Malam itu Santi sedang mengerjakan laporannya di meja kamarnya ditemani oleh laptop tua warisan dari kakaknya yang sudah tidak kerja lagi, karena sudah menikah dan sibuk mengurus anaknya. Sambil menaikkan suhu AC di kamarnya, ia agak keheranan dengan udara yang agak dingin, karena tak biasanya ia kedinginan seperti ini. Ia melihat jam dindingnya yang menunjukkan pukul 11 malam lebih, sambil berkata dalam hati bahwa ia akan berhenti tepat saat tengah malam, matanya sudah cukup ngantuk, ia meragukan utnuk bisa melanjutkan lebih dari tengah malam.
Setelah beberapa halaman laporannya mulai bertambah, ia mulai merasa ada yang aneh dengan kamarnya, selain udara yang bertambah dingin dan dingin, ia merasa ada gerakan dari dalam lemari pakaiannya yang terletak di samping mejanya. Untuk bisa melihat lemarinya, Santi harus menengok ke kiri. Pelan-pelan ia menengok ke arah suara tersebut, “Srek srek” suara yang sangat pelan sekali. Santi tidak melihat apa-apa, mungkin hanya tikus atau binatang kecil lain pikirnya. Tepat saat benaknya selesai berkata seperti itu, dari bawah lemari mulai muncul bercak berwarna merah pekat yang semakin Santi perhatikan, bercak itu semakin meluas menjadi genangan, tak perlu berpikir lama untuk Santi berpikir itu adalah genangan darah! Bau anyir juga menegaskan bahwa itu bukan cat atau cairan lain.
Santi berteriak sekuat tenaga!!!
Lalu Santi terhenyak dari mejanya, mendapati laptopnya dalam mode ‘Sleep’. Ia mendadak pusing, kepalanya terasa berat, lantas ia reflek melihat ke lantai di depan lemarinya, putih bersih, tak ada noda sedikitpun. Aah, rupanya Santi tertidur di mejanya dan bermimpi buruk, saat ia menengok jam dindingnya, jarumnya sudah menunjukkan pukul dua pagi. “Sial, mimpi gue serem banget..” sambil merapikan meja kerjanya, mematikan laptop, membereskan alat tulis, memasukkan beberapa uang receh kembalian dari membeli siomay tadi sore, dan memasukkan sejumlah kertas file untuk besok di kantornya. Lalu Santi cuci muka, serta ritual membersihkan wajah seperti malam-malam biasanya, kemudian pergi tidur.
Beberapa minggu setelah itu berlalu seperti biasa, Santi juga telah melupakan hari dimana mimpi itu terjadi, sampai ketika ada satu kejadian aneh yang ia alami dengan Mbak Yus.
Mbak Yus adalah pekerja di kostan itu, usianya tidak terpaut jauh dengan Santi. Karena kesibukan Santi dengan pekerjaannya, ia tidak cukup punya waktu untuk membersihkan kamarnya, maka dari itu Santi mulai mempekerjakan Mbak Yus dari minggu lalu. Kerjanya rapi, dan ia pun jujur, maka Santi berani membayar lebih untuk upah Mbak Yus.
Pada suatu sore yang mendung, Santi pulang kerja dalam keadaan cukup letih, dan saat ia akan masuk ke kamar, tiba-tiba Mbak Yus memanggil,
“Ada apa, Mbak Yus?”
“Kamarnya sudah saya bersihkan ya. Itu lho Mbak, tadi saya nemuin uang receh di meja Mbak Santi. Banyak mbak, berantakan gitu, jadi kalo Mbak Santi nyariin, tadi sudah saya taruh di laci meja ya…”
“Oh iya, makasih ya, Mbak Yus…” tukas Santi sambil tersenyum tulus.
Setelah sampai di kamar dan merebahkan diri di kasur empuknya, Santi mulai berpikir, “Perasaan gue nggak punya recehan deh…”
Segera ia membuka laci mejanya, karena kata Mbak Yus tadi, ia memasukkan recehan tersebut ke laci meja. Tapi setelah beberapa menit dengan membuka semua laci yang ada di kamarnya, termasuk laci lemari, dan lainnya, ia tak meenmukan uang tersebut. “Tidak mungkin Mbak Yus berbohong. Ah sudahlah, recehan ini doank.”
Sejak hari itu, sudah ketiga kalinya hal ini terjadi, Mbak Yus mengaku merapikan recehan yang berantakan di atas meja ke dalam laci. Mbak Yus selalu melaporkan hal tersebut, karena sangat kontras sekali dengan keadaan kamar Santi yang selalu rapi, karena memang Santi orangnya selalu menjaga agar kamarnya bersih. Dan tiga kali pula Santi mengecek ke setiap laci, tapi hasilnya nihil, Santi tidak menemukan sekeping pun uang receh. Saat ditanya pun Mbak Yus bahkan bersumpah, dan Santi tahu ia tidak bohong.
Santi pun mulai merasa semakin aneh dengan itu.
Keesokan harinya ia pulang dari kantor dengan membawa makan malam beberapa bungkus, karena ia akan makan malam bareng teman satu kostannya, termasuk Rina. Tidak ada yang janggal pada saat makan malam itu, Santi, Rina dan beberapa teman kostannnya sedang bercanda sambil melahap nasi goreng yang telah dibawa Santi. Tetapi Santi agak murung pada saat itu.
“Kenapa lu, San? Habis diomelin boss lu lagi?” Tanya Rina sambil memasukkan suapan nasi goreng ke mulutnya.
“Ga apa-apa, Rin. Gue lagi cape aja nieh kayaknya.”
“Ooooh, istirahat cepet, ntar sakit lhoo. Anyway, kalo nasi goreng lu nggak habis, siniin buat gue aja, hehe!”
“Enak aja lu, biar cape gini, napsu makan gue masih normal!” ujar Santi sambil menunjukkan gerakan melindungi nasi gorengnya.
“Eh iya, lu inget sepatu yang waktu itu kita liat bareng nggak? Sekarang itu udah diskon lhooo, tapi duit gue kurang dikit lagi, gue masih nabung-nabung nieh, gue pengen banget tuh sepatu..”
“Sabar aja Rin, toh sepatu lu masih banyak ini..” Imbuh Santi.
“Ah, siaul lu.. itu sepatu khan gue seneng banget…!”Bentak Rina sambil setengah bercanda. Dan mereka pun tertawa bersama-sama.
Percakapan tidak lama berhenti karena masing-masing saling menikmati makan malamnya. Tetapi Santi termenung memikirkan perihal uang receh yang cukup membingungkan itu, sambil melihat ke arah kamarnya yang pintunya memang terbuka sedari tadi.
Matahari mulai tenggelam di balik cakrawala, sehingga jendela yang tadi terbuka dan menerangi kamarnya mulai redup dan gelap. Ranjang Santi tepat berada satu garis lurus dengan pintu dan meja makan di ruang tengah, sehingga saat pintu kamarnya terbuka, dari meja makan Santi bisa melihat ranjang Santi tersebut. Saat ia sedang memikirkan bagaimana hal itu bisa terjadi, entah bagaimana muncul sesosok wujud yang sedang tidur di ranjang milik Santi. Pertama terlihat seperti bayangan gelap yang lama kelamaan menjadi semakin jelas, garis badannya yang buram semakin terlihat. Rambutnya yang panjang sebahu juga terlihat, ia seorang wanita. Santi dengan terus tidak bergeming menatap wujud itu terus menerus sehingga tidak melewatkan setiap detail yang ada. Santi tahu itu apapun itu, dia berbentuk seperti seorang wanita. Posisinya sedang tertelungkup atau tengkurap di atas ranjang milik Santi. Santi yang sedang duduk di meja makan di ruang tengah, memilih kursi yang tepat berhadapan dengan kamarnya, sehingga dari sana ia bisa melihat makhluk itu tengkurap, dan Santi bisa melihat matanya! Mata itu menatap lurus tepat ke arah Santi, sehingga Santi bisa merasakan tatapannya yang dingin segera merasuk ke dalam tulangnya, semua bulunya merinding. Kejadian itu sebenarnya berlalu sangat cepat, dan mungkin hanya hitungan detik saja, tapi tidak bagi Santi, ia merasakan setiap desiran rasa takut menguasainya, membiarkannya mengalir kesetiap aliran darahnya.
Santi tahu teman-temannya tidak menyadari apapun itu yang ada di kamarnya, karena hanya Santi yang duduk berhadapan langsung dengan kamarnya, tak terkecuali Rina yang sedang duduk persis di sampingnya. Dalam benaknya, Santi ingin segera berteriak, atau paling tidak memberitahu temannya atas apa yang dia saksikan tersebut, tapi entah kenapa atau rasa takut yang teramat sangat membuat satu kata pun yang akan terucap, terasa sangat sulit diucapkan. Keringat Santi mulai keluar tanpa terasa, matanya terbelalak tak lepas dari apa yang dia lihat, karena tatapan itu sangat mengerikan. Mulut Santi terbuka, mencoba mengatakan sesuatu, apapun itu, asal terucap sepatah kata saja sudah cukup. Sampai ketika sebuah tangan yang menggoyangkan bahu Santi.
“Elu kenapa, San!!?? Tanya Rina setengah berteriak ketika menyadari ada yang tidak beres denga kawannya.
“A… a… a…. apaa it.. ituu??” Guman Santi seraya berusaha keras mengangkat jarinya ke arah kamarnya sendiri.
Tanpa komando, ternyata semua teman yang sedang makan bersama itu segera melihat ke arah jari Santi, yaitu ke kamarnya, termasuk Rina.
“ANJRIIIIITTTTTT!!!!!!!” Teriak Rina, dan hampir bersamaan segala teriakan memenuhi ruangan itu, dan segera saja semuanya kabur menuju ke kamar masing-masing, kecuali Santi tentu saja. Rina segera menarik tangan Santi untuk menuju ke kamarnya. Dalam perjalanan Santi masih bisa melihat dari sudut matanya, dan entah kenapa, rasanya mata itu hanya menatap ke arah Santi, dan bukan ke yang lain, sampai makhluk itu menghilang dari pandangannya.
Setelah keadaan beranjak tenang di kamar Rina, Santi mulai bertanya kepada Rina.
“Rin, jelasin ke gue, apa yang kita liat tadi!?? Gue tahu kalian semua nyembunyiin sesuatu dari gue. Gue tahu itu!! Ada yang nggak bener di kamar gue!!”
“Sori banget San, kita semua nutup-nutupin ke elu selama ini, emang ada sesuatu di kamar elu, tapi gue nggak nyangka bakalan separah itu.”
“Ya udah, sekarang jelasin ke gue, semuanya!!!”
Dan Rina pun mulai menjelaskan.
“Hampir setahun lalu, pernah ada orang yang meninggal di kamar lu, tepatnya di kamar lu. Gue nggak pernah tahu kenapa, dan gue nggak pernah mau tahu. Gue udah cukup serem ngebayanginnya. Anak-anak yang ngekost sebelum elu pada nggak betah, karena pas tidur, mereka mimpi hal yang sama tiap hari, tentang darah dari lemari ato apalah itu, hampir tiap hari mereka bermimpi hal yang sama. Tiga ato empat orang yang udah tinggal disitu, tapi paling lama dari mereka bertahan cuma dua minggu karena nggak betah. Makanya kita sering nanya ke elu, tidur lu nyenyak ato nggak, karena sampai sekarang, elu yang tinggal paling lama. Dan gue nggak nyangka, dia ngeliatin dirinya sampai sejelas itu ke kita…”
“Dia??? Elu tahu Rin, siapa dia??” Tanya Santi.
“Mbak Yum. Dia kakaknya Mbak Yus, pembantu yang kerja disini. Elu bisa nanya dia kalo pengen tahu lebihnya.”
“Astagaaaa…..” Guman Santi sambil menutup mulutnya, menunjukkan ekspresi kaget.
Dan malam itu semua penghuni kostan tidur berdua, tidak ada yang berani tidur sendiri. Santi juga tidur dengan Rinaa malam itu.
Pagi itu Santi memutuskan untuk tidak pergi ke kantornya. Ada yang harus ia selesaikan. Santi ingin berbicara dengan Mbak Yus saat ia tiba nanti. Santi ingin penjelasan darinya. Santi menunggu di meja makan saat waktu menunjukkan pukul sembilan lebih, dan Mbak Yus datang.
“Mbak Yus, tolong duduk sebentar deh, saya mau ngobrol donk…”
“Iya mbak. Ada apa ya ini? Kerjaan saya ada yang bersih ya, mbak?” ujar Mbak Yus dengan mimik muka yan sedikit khawatir.
“Nggak koq Mbak, sama sekali nggak. Sebelumnya saya minta maaf ya, Mbak Yus, saya mau nanya tentang kakaknya Mbak Yus. Apa yang terjadi ya waktu itu?”
Mbak Yus termenung cukup lama, sampai ia mengatakan sesuatu, dan air matanya nampak mengalir dari matanya.
“Saya sudah maafin Vira, Mbak. Saya udah ikhlas….”
Kemudian Mbak Yus menceritakan semuanya, matanya sembab oleh karena air matanya, tapi dia bercerita dengan tegar. Diceritakan tahun lalu seorang penghuni kost bernama Vira menempati kamar yang dipakai Santi sekarang, dan Mbak Yum masih bekerja disini. Tabiat Vira dikenal kurang baik, sering mencari masalah. Suatu hari Vira mengaku kehilangan uang receh di atas mejanya, hanya uang receh, dan ia menuduh Mbak Yum yang mencurinya. Tentu saja Mbak Yum tidak akan pernah mencuri uang tersebut, dan Mbak Yum tahu Vira hanya berbohong. Kemudian kecelakaan terjadi. Karena Mbak Yum tidak mau mengaku, Vira sangat jengkel dan akhirnya mendorong Mbak Yum ke arah lemari pakaiannya yang memang masih terbuka. Mbak Yum terjatuh, dan sebelum ia sempat berdiri, rak kayu yang terbuat dari kayu jati tersebut jatuh dan tepat menimpa kepalanya. Dan Mbak Yum meninggal seketika dengan kepalanya yang bocor. Setelah disidang, akhirnya Vira diganjar hukuman 5 tahun penjara.
Setelah selesai bercerita, Santi memegang tangan Mbak Yus, menguatkan dia.
“Kenapa Mbak Santi bertanya? Tanya Mbak Yus tiba-tiba.
Kemudian Santi menceritakan pengalamannya semalam, dan tentang mimpinya waktu itu, tentang mata itu yang selalu menyorot ke arahnya.
“Jangan sekali-sekali menaruh uang receh di atas meja itu mbak, ia suka marah. Makanya saya selalu membereskan uang receh yang mbak taruh di atas meja. Dan untuk berjaga-jaga, nyalakan saja sebatang lilin di atas meja itu mbak, Mbak Yum tidak suka lilin. Kemaren saya sempat membersihkan meja Mbak Santi, tapi lihat tangan saya, ini akibat ia tidak menyukai ada uang receh di meja mbak. Tapi saya nggak takut,bagaimaanpun itu kakak saya” Mbak Yus berkata seraya menunjukkan bilur-bilur biru di lengan kanannya, berbentuk seperti tangan yang menggenggam, sangat kontras warnanya dengan warna kulit Mbak Yus yang putih.
Dan masalah uang receh ini menjelaskan semuanya.
Beberapa minggu sesudahnya, Santi dan Mbak Yus tetap menjaga kerahasiaannya tentang Mbak Yum dan kisahnya. Tidak ada hal yang aneh sejak Santi selalu menyediakan lilin di mejanya, dan menjaga agar tidak ada uang receh di atas mejanya.
Malam hari yang cukup panas, AC Unit di kamarnya pun sedang dalam perbaikan, sehingga membuat Santi harus membuka pintu kamarnya sembari ia sedang membaca sebuah buku novel kesukaannya dia atas ranjang. Sampai Rina datang mengganggu ke kamarnya.
“Saaaaantiiiiiiiii……..!!!!!!” teriak Rina sambil setengah berlari menuju ke kamar Santi.
“Buset, kebiasaan anak gunung dibawa-bawa, teriak-teriak mulu, kenapa sieh??”
“Liat donk gue bawa apaan?” Cengir Rina berusaha menahan gembiranya.
“Apaan tuh, buntelan gitu, lu abis maling?” Tanya Santi keheranan sembari melihat buntelan berisi sesuatu yang dibungkus dengan kain.”
“Siaul lu! Liat nieh, gue kasih kejutan yaaa…! Apaan sieh nie, panas-panas gini nyalain lilin.” Rina meniup lilin di meja Santi yang tadinya masih menyala, dan segera menyingkirkannya ke lantai.
Belum sempat Santi berteriak untuk menahan tindakan Rina mematikan lilin itu, Rina sudah membanting buntelan itu ke atas mejanya, dan sepertinya terdengar suara pecah dari dalam buntelan itu. Setelah benda tersebut pecah, Rina langsung nyengir sambil berkata.
“Gue jadi beli sepatuuuu…!!!!” sambil membuka buntelan tersebut di atas meja.
Santi begitu terkejut. Bukan terkejut karena kejutan dari Rina, tetapi karena dugaan Santi benar. Rina membawa celengannya, dan memecahkannya tepat di atas meja Santi!
Santi pasrah.
Tiba-tiba kamarnya mendadak menjadi dingin, hawanya berubah menjadi begitu tidak enak. Bulu kuduk Santi seketika berdiri, dan Santi melihat raut wajah Rina yang berubah sangat cepat menjadi ketakutan, Santi tahu, Rina juga merasakan hal yang ia rasakan. Dalam waktu hampir bersamaan, pintu lemari dari kayu jati milik Santi terbuka penuh, dan memperlihatkan sepasang mata merah yang membara, menampilkan kekejian yang memancar, lalu pintu kamar Santi terbanting dan tertutup dengan sangat keras.
BRAAAAAAAAAAKKKKKKKKK!!!!!!!!!!

H.S.A.S.

Advertisements

~ by tulishapsara on June 16, 2012.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: