LINGKARAN KEDUA

Kehidupan saya menjadi anak tanggung, masa peralihan dari seorang anak kecil menjadi remaja tanggung, mungkin antara sekolah menengah pertama sampai saya lulus sekolah menengahatas. Hanya berbeda seragam yang berubah dari merah menjadi biru, kegiatan, permainan, dan kawan-kawan tidak banyak berubah. Dari seluruh masa hidup saya, mungkin pada saat saya berada di SMP inilah, ingatan saya sangat kabur. Saya tidak tahu, apakah memang pada waktu itu saya terlalu biasa, dan tak ada yang istimewa dari diri saya, atau yang parah, isi kepala saya sudah sedikit bergeser, dan ada kabel-kabel yang rusak dimakan tikus. Tapi saya akan tetap berusaha mengingat dan menceritakannya disini, terutama pengalaman yang cukup berarti.

Setelah saya (setengah mati) mencoba mengingat-ingat hal-hal yang terjadi di SMP, ternyata memang di waktu SMP ini saya tidak terlalu banyak tahu, entah mungkin saya pernah terbentur di kepala, atau sempat diculik alien dan dihilangkan ingatannya, saya pun tidak tahu.

Pertama kali saya ingat, sepeda saya. Sepeda legendaris yang telah menemani saya selama sekolah dasar telah mendadak menjadi kecil, karena saya tumbuh besar. Sepeda itu terpaksa pensiun, karena memang saya tak proporsional lagi untuk mengendarai sepeda itu, dan juga saya telah dibelikan sepeda oleh bapak saya, sepeda yang besar, seperti sepeda-sepeda kebanyakan. Dan karena sekolah saya cukup jauh, dan sistem gir roda sepeda sudah lama, dan belum menerapkan sistem gir banyak, sebelum saya sampai di sekolah mungkin saya sudah bercucuran keringat. Saya tidak mau ke sekolah membawa peralatan mandi. Dan yang utama, saya terlalu malu membawa sepeda itu.

Dulu saya suka memakai tas selempang. Yang membedakan dengan yang lain adalah tali saya set di ukuran yang paling panjang, dan memakainya bukan disilang, tetapi seperti ibu-ibu, digantung di bahu saja. Dengan demikian, tas saya bawa bisa sampai lutut. Dan buku pelajaran juga sangat banyak, dari catatan, buku latihan, buku PR, buku cetak, serta LKS. Lalu dengan memakai sepatu ‘Carvil’ yang ceper, serta rambut belah tengah (atau belah pantat) yang saat itu mendunia. Kadang juga kalau selesai pulang sekolah, atau sekedar waktu istirahat, saya juga sering mengeluarkan baju, biar dibilang gaya pada waktu itu.

Masalah pergaulan, saya mulai mengerti dan mulai mengelompokkan anak-anak di sekolah. Anak-anak yang satu tipe biasanya selalu berkumpul bersama.

Ada kelompok kutu buku, yang terlihat bagi saya adalah, buku itu adalah pasangan hidup mereka. Jangan coba-coba meminjam buku dari mereka, itu adalah hal yang sia-sia, kecuali anda memang satu kelompok dengan mereka. saya memang tak bisa masuk kelompok mereka, tapi jikalau saya bisa pun, saya tidak mau masuk kelompok yang hidup bersanding dengan buku, tujuan utamanya mengejar nilai setinggi mungkin. Apa sih artinya nilai, hanya sebuah angka di rapor. Inti dari belajar adalah mengerti, serta penerapannya dalam hidup, dan hidup pun belajar. Nilai yang tinggi tanpa pergaulan yang baik pun tidak akan menjamin masa depan mereka akan lebih baik daripada murid yang kerjanya merokok di toilet. Beberapa anak terciri dengan kacamatanya yang tebal, bahkan saya pernah bertanya karena begitu penasaran betapa tebal lensanya, seperti pantat botol. Kacamatanya minus 9. Saya berpikir, beberapa tahun kedepan matanya pasti akan semakin rabun, dengan lensa yang semakin tebal, jadilah telinga dan hidung bertambah kekar, karena menahan bobot kacamata yang berat itu.

Anak gaul. Di kelompok ini, kebanyakan perempuan, daripada laki-laki. Berbeda dengan sekarang, yang cukup dilihat dengan seragam yang minimalis, make up yang maksimalis. Dulu modifikasi seragam sangat terbatas, paling hanya menggulung lengan, hingga lengan atas yang putih itu terlihat. Ciri yang paling mencolok dari kelompok ini adalah desibel suara yang melebihi batas manusia normal. Mereka meracau dengan segala bahan pembicaraan yang tidak penting, dari membicarakan anak-anak lain yang mereka anggap cupu, sampai potongan rambut. Atau juga membahas cowok-cowok keren di sekolahan. Tidak, nama saya tidak pernah terdengar jika mereka membahas itu. Kalau saya bertemu dengan kelompok ini, saya usahakan agar menghindar tanpa mencolok mata mereka, karena cuma ada dua pilihan, kalau tidak digoda, ya di jelek-jelekan. Opsi pertama sangat tidak mungkin untuk saya, maka paling tidak saya harus menghindari opsi kedua. Yah, memang kelompok ini didominasi oleh murid cewek yang, bolehlah dikatakan cantik, dan cowoknya pun sama. Tinggi badan jika dibandingkan dengan saya memang tak beda jauh, paling hanya 2-3 sentimeter, tapi kegantengan beda 6 kilometer.

Kelompok badung. Kelompok ini adalah kelompok, yang seandainya mereka tidak sekolah, maka minimal mereka akan jadi preman. Jangan coba-coba mengganggu salah satu dari mereka, karena akan tidak baik bagi kesehatan. Untung sudah disediakan klinik sekolah. Tapi selama saya disana, ruangan itu paling jarang dipakai. Baguslah, memang kekerasan di sekolah saya sangat sedikit. Boleh saja coba-coba meminjam buku dari mereka, karena percuma saja, tidak ada gunanya. Merokok, membolos adalah hal yang biasa bagi mereka. Dan sebaiknya kelompok ini tidak usah banyak dibahas, karena disamping merugikan kesehatan, tidak ada ilmu yang bisa diambil, kecuali memang anda ingin menjadi setidaknya perampok bank.

Pada waktu SMP, saya mempunyai sahabat-sahabat yang menemani saya. Michael Evantus Nuryanto Darsono, teman yang akhirnya pindah SMA, dan sampai sekarang saya tidak tahu bagaimana kabarnya. Adhi Prasetya a.k.a Aphey (AP), teman SMP saya yang ceking, sama seperti saya, dengan nama yang sama pula. Aldy Artrian, sahabat saya yang hitam kulitnya, tetapi baik hatinya.

Kemarin saya mencoba melewati depan rumah saya di HOP yang sudah lama tak ditempati. Kotor sekali, dengan tanaman yang tumbuh liar tak terurus, atap yang sudah lumayan jelek, kawat kasa yang sudah bolong-bolong, kelihatan sekali bahwa rumah itu memang sudah tak ditempati lagi. Mungkin jika orang biasa yang lewat situ, jalan, pohon, parit, dan lainnya akan terlihat biasa. Tapi akan sangat berbeda jika saya yang melewati jalan tersebut. Dengan mengendarai motor sangat pelan, tak sampai 10 detik untuk melewati rumah itu, HOP V/305. Tapi ribuan kelebat kenangan tiba-tiba tumpah ruah di kepala.

Parit yang dalam di depan rumah, tempat saya dulu mencari kecebong, atau ikan cere, sudah tampak dangkal, padahal saya dulu setengah mati membidik kecebong dengan panah lidi dari atas jalanan. Polisi tidur di samping rumah yang terbuat dari baja, dulu di ujungnya sempat tertekuk ke luar akibat diinjak dengan teganya oleh truk pengangkut pasir, sekarang sudah benar, walaupun sisa gepengnya masih ada. Lalu gardu listrik di samping rumah juga, dulu pagarnya tinggi sekali, susah sekali untuk dipanjat, jadi gardu itu adalah gubuk penyelamat sang kodok yang diburu oleh saya, agar nyawanya tak melayang akibat ‘permainan’ yang saya mainkan. Lalu di pojok rumah dulunya ada pohon besar, sekarang sudah tidak ada.

Dulu pernah ada sarang burung gereja disitu, yang saya ambil, dan saya tetaskan sendiri. Saya rawat dengan baik, sampai dia beranjak remaja. Burung itu sangat jinak sekali pada saya, sehingga saat saya jalan keluar, ia saya taruh di bahu, macam jagoan di film-film yang memelihara burung elang yang bersanding di pundaknya. Daripada habis kuping saya dimakan elang, lebih baik burung gereja sajalah, biar kecil, yang penting ada. Tetapi nasibnya sangat tragis, dia kecelakaan, oleh saya. Secara tidak sengaja, saat saya duduk di sebuah sofa, ternyata dia dengan lugunya berada di sofa itu juga, dan terjadilah kecelakaan itu, saya menduduki dia. Dengan seluruh bobot badan saya, dan badan burung itu yang kecil, kakinya yang seperti lidi itupun patah. Saya sangat menyesali kejadian tersebut. Saya waktu itu tidak tahu caranya agar kakinya kembali seperti semula. Saya tatap mata burung itu dalam-dalam, sambil berkata “maafin aku, Rung…” (Burung maksudnya).

Ia seperti menangis.

Saya benar-benar tidak tega. Akhirnya dengan hati pilu, saya mengikat kakinya yang patah dengan benang, lalu saya berikan ke teman saya, karena saya tidak tega. Teman saya itu pada dasarnya tidak suka dengan hewan, tapi karena terpaksa, akhirnya saya berikan saja. Teman saya membawa pergi burung itu, dan disitulah terakhir melihat wajah mungilnya (burung, bukan teman saya) karena entah bagaimana nasibnya, digoreng, atau dilemparkan ke kucing. Ending yang cukup tragis.

Rawa-rawa di dekat rumah saya juga banyak menyimpan kenangan manis. Selain tempat pertama saya merokok, memancing, yang sudah saya ceritakan duluan di LINGKARAN PERTAMA, hal-hal yang bersifat alam memang cocok dilakukan disitu. Menjerat burung, menangkap biawak, atau sekedar merobohkan pohon pisang tua.

Ribuan detail cerita yang tidak bisa saya sebutkan satu persatu, hanya dengan melihat salah satu sudut rumah, jalan, dan hal-hal kecil lainnya sangat menyentuh sekali. Bagi anda yang membaca tulisan ini, sekali waktu cobalah jika sempat, mampir ke tempat anda tumbuh, sedari kecil hingga dewasa, diamlah sejenak, buka pintu kenangan anda, lalu lihatlah sekeliling satu persatu, tempatkan pikiran anda ke masa lalu dimana semua tempat itu begitu berarti bagi anda. Lingkungan itu akan mengingatkan dan mengeluarkan semua cerita kanak-kanak anda. Tempat dimana anda pipis sembarangan, tempat andalan anda waktu main petak umpet dengan teman sepermainan anda, parit tempat anda tercebur, teras di depan rumah yang menjadi ajang mandi bugil tanpa rasa malu, tembok yang menjadi sandaran untuk sepeda anda, pohon yang sering anda panjat, tanah tempat dulu anda kuburkan barang anda. Semua hal itu adalah indah, memaksa anda untuk menyadari, bahwa sang waktu telah membawa anda hingga sebesar anda sekarang, anda telah tumbuh menjadi seseorang, anda telah dewasa. Saya pribadi merasa bersyukur, bahwa saya masih bisa merasakan rasa yang diidamkan oleh hampir seluruh manusia di muka buni ini.

Rindu.

Kembali ke kehidupan saya. Beranjak SMA adalah hal yang sangat menyenangkan bagi saya, karena sedari SMP, saya sangat ingin mengenakan seragam abu-abu dengan celana panjangnya, kesannya gimana gitu. Dengan masa orientasi selama seminggu, saya dikerjain oleh para kakak kelas, dan yang berkesan bukan itu, tapi di waktu itulah, rambut saya pertama kali botak. Dan saya paling benci rambut botak. Mungkin itu yang menjadi karma saya karena benci botak, sebab beberapa tahun setelah itu, selama 4 tahun saya diharuskan botak.

Benar kata banyak orang, masa SMA adalah masa yang begitu indah. Saya mendapati diri saya dalam kenyamanan disitu. Saat kelas 1, masing-masing dari kami masih mempunyai jiwa SMP yang belum semuanya kami tinggal. Di mata anak SMA, kita masih kekanak-kanakan, ditambah baju putih abu-abu yang masih kaku, kita seperti belum pantas saja rasanya masuk SMA. Tapi itulah kelas 1, masa penyesuaian, baik dalam hal pelajaran yang makin banyak dan makin sulit (Kelas 1, Caturwulan I, untuk pertama kalinya saya mendapatkan MERAH di salah satu mata pelajaran), penyesuaian pergaulan dari kecil ke remaja, penampilan yang harus tidak cupu, teman yang makin tinggi saja, dan lainnya.

Saya masih ingat, kelas 1 tinggi saya hanya 160 cm, dan begitu kelas 2, saya harus membeli celana seragam saya sebanyak dua kali, karena menggantung, dan sebelum saya naik kelas 3, tinggi saya sudah seperti sekarang. Satu tahun itu benar-benar masa perpanjangan badan saya.

Saya sendiri saat kelas 1 belum begitu tertarik sama cewek, karena saya jiwa bermain saya masih lumayan bergejolak. Dengan teman sepermainan saya, masih Aldy Artrian, Irfan Setiawan Munahar, yang kita bertiga sempat didatengin anak kelas 3, sebanyak satu kelas, gara-gara kita sama-sama menyukai satu cewek anak kelas mereka, bukan suka dalam arti untuk jadi pacar, tapi mungkin lebih mengagumi kecantikannya ya, itu saja, tidak lebih. Tidak, kita tidak dipukuli, tapi itu cewek hanya ingin tahu, bagaimana rupa anak yang menyukainya, bagaimana kita tidak tengsin, didatengin satu kelas dan ditunjuk, dan dia seraya berkata, “oooooh, ini toh anaknya..”. terjemahan bebasnya mungkin, “Hey anak kecil! Ngaca dulu donk kalo mau suka! Lurusin dulu tuh ingus melernya, gedein dulu tuh badan, baru boleh suka…..” dan kita hanya terdiam. Setelah mereka pergi, kita nyengir satu sama lain. Nasiiiiib!!!!!!

Kadang kala saya masih suka berpikir, bahwa masa-masa SMA itu sangat menyenangkan, dan itu benar. Pikiran saya kadang masih terjebak di putih- abu, dan kadang kenangan itu hanya menyisakan senyum saja sekarang.

Kalau kelas satu SMA adalah masa peralihan, maka kelas dua SMA adalah masa bersenang-senang sebagai murid SMA. Kita sudah bisa ngeceng sama anak kelas satu yang baru saja masuk, yang seragamnya masih kaku. Celingak-celinguk liat abege itu biasalah, kadang suka ke kantin dengan berputar melewati kelas-kelas satu pada saat istirahat, walaupun rutenya menjadi lebih jauh, tapi efeknya lumayan ampuh, kita jadi lebih dikenal. Yah, walaupun lebih dikenal sebagai tukang tepe (tebar pesona).

Pada masa ini saya juga sudah menyukai lawan jenis, tapi hanya sebatas itu saja. Perlu diketahui, saya belum pernah pacaran pada saat SMA lhoo, bukan karena saya jelek, tapi lebih karena saya tidak mendapatkan cewek yang saya mau. Ada seorang sahabat yang sudah saya kenal akrab sejak saya duduk di kelas dua SMA ini, saya maupun dia mempunyai perasaan yang sama (menurut pengakuan beliau), tapi kita pendam karena kita takut persahabatan kita rusak. Yang pada akhirnya 5 tahun kemudian kita sama-sama membuka rahasia itu, dan syukurlah, persahabatan kita tetap terjaga sampai sekarang.

Pada saat kenaikan kelas tiga SMA, ini adalah penentuan apakah kita bisa masuk IPA atau masuk IPS. Dan tentu saja, jurusan yang paling populer saat itu adalah IPA, hampir semua murid menginginkan IPA, terkecuali murid yang agak idealis yang memilih IPS. Saat itu nilai saya, percaya atau tidak, dari tiga mata pelajaran IPA, yaitu matematika, Fisika, dan Biologi, hanya matematika saja yang tidak merah, Fisika dan Biologi masing-masing dapat 5. Tapi nilai Matematika saya waktu itu sangat tinggi, 9. Dan karena itu, guru Matematika saya waktu itu membantu saya, memindahkan nilai lebih Matematika saya ke mata pelajaran yang kurang, dan hasilnya saya masuk IPA. Itu adalah sebuah keajaiban yang patut disyukuri sebenernya, karena pada poin itu, saya telah digariskan untuk menjadi seperti sekarang.

Kelas tiga, adalah tahun-tahun paling dikenang sepanjang saya sekolah. Saya masuk 3 IPA 2, tidak seperti 3 IPA 1 yang begitu kutu buku, atau 3 IPA 3 yang terlalu liar. Saya masuk di kelas yang cukup smart, dan tidak cukup bodoh untuk membuat image IPA jelek. 3 IPA 2 bertempat di lab. Biologi, saya masih ingat dengan jelas saya duduk paling pojok belakang, dari dahulu saya memang paling suka duduk di belakang, kenapa? Saya bisa melihat kondisi semua teman saya, situasi ruangan keseluruhan, dan tentu saja, paling jauh dengan guru, dan cukup aman untuk berisik, haha! Tepat di belakang saya ada tengkorak utuh, terbuat dari gypsum, dan sering dijadikan bahan iseng. Duduk di sebelah kanan saya, Pandu Dharma Saputra, si Murid Gila 1 yang hampir tiap pagi bersin. Didepan saya duduk bersebelahan Lamondo Rovasanto Nababan, si Murid Gila 2, dan Rezki Hadisaputra, si Murid Gila 3 dari Madura. Sebagian besar kekacauan yang terjadi di kelas, bisa dipastikan mereka penyebabnya. Dan murid-murid lain, Rendy Dwi Saputra, M. Radityas Maliki Hansa, Dirgantara Manurung, M. Rizki, Arisandi Saputra, Budimansyah, Ade Rahmat, Mylda Sadrach, Nur Anida Hasibuan, Riska Astrina, Maryama Sofa, Dan lainnya yang tidak saya sebut, saya sungguh berterimakasih kepada kalian semua.

Ada satu kejadian yang masih saya ingat pada saat bimbingan belajar sebelum UAN. Anak kelas tiga pulang lebih terlambat untuk itu, kita merasa cemburu kepada adik-adik kelas karena pulang duluan, kita yang pulang terlambat setelah beberapa minggu menjadi agak jenuh, akhirnya pada suatu sore setelah bimbel, kita masuki satu persatu kelas yang kosong, kita cek lacinya satu demi satu. Dan banyak anak yang meninggalkan alat tulisnya sengaja atau tidak sengaja di dalam laci. Beberapa teman yang ikut, banyak yang mendapatkan hasil, dari yang paling kecil seperti penghapus yang tinggal setengah, sampai kalkulator!! Sampai pada suatu ketika jiwa bandel kami keluar, beberapa orang dari kita memberantaki sebuah kelas milik kelas 1, seluruh kelas kami taburi dengan Vim, salah satu merk pembersih westafel yang berbentuk serbuk putih. Kami tabur ke semua meja, kursi, dan yang terakhir di tempat yang telah kami rencanakan, di atas bilah kipas yang terletak di plafon kelas. Kemudian halo yang kita rencanakan terjadilah, pagi keesokan harinya pada saat mereka telah selesai membersihkan kelas dan kecapean, mereka mulai menyalakan kipas tersebut karena kepanasan, dan kemudian hujan salju dadakan pun terjadilah. Kelas yang telah mereka bersihkan pun tertutup oleh ‘salju’ kembali.

Saya pun pada saat akhir-akhir masa sekolah, juga mempunyai pengalaman tersendiri. Saya dan seorang teman memutuskan mengabadikan nama kita di papan tulis sebuah kelas, yang benar-benar abadi, sepanjang masa. Saya mengerik nama saya ADHI di papan tulis tersebut, lumayan besar dan berada di tengah papan tulis itu, dan teman saya juga mengikutinya. Setelah selesai, ada sedikit rasa kutrang puas, karena nama itu tidak terlalu kelihatan, kemudian saya mulai menggosok ukiran nama saya tersebut dengan penghapus, dan benar saja, jreeeeeeng, nama saya muncul dengan indahnya di papan tulis tersebut. Masalahnya adalah, papan tulis itu masih akan dipakai, dan nama saya terukir dengan jelas disitu. Saya kabur pulang, dan masalah ukiran nama itu tak pernah terdengar. Untung.

Kendaraan yang saya pakai pada saat SMA adalah Yamaha F1ZR, dengan bodi berwarna merah dari ujung ke ujung, sangat mudah mengetahui motor saya waktu itu. Saat sekolah dulu saya memang keranjingan warna merah, tas sekolah saya pun berwarana merah. Pada saat itu, motor tersebut lumayan menjadi favorit para anak SMA, dengan keterbatasan jenis motor pada waktu itu. Dan sampai saya menulis tulisan ini, motor itu tidak pernah sama sekali saya jatuhkan, bahkan tergores. Tapi malang nasibnya, ia jatuh dua kali, pertama oleh kawan saya, waktu saya pinjamkan ke dia, dan yang kedua yang parah, tabrakan dengan mobil, pada saat bapak saya mengendarainya. Sekarang motor itu masih teronggok di rumah, sudah berganti bentuk dari motor bebek ke motor cross, karena bapak saya yang memodifikasinya. Dengan motor tersebut, saya berjalan kemana-mana, menggonceng cewek, ngebut-ngebutan, kabur dari security, pergi-pulang sekolah. Sungguh saya mengalami masa-masa indah bersama motor itu.

Pada saat SMA, saya benar-benar keranjingan olahraga, terutama sepakbola dan bulu tangkis, dan kadang bola voli. Di ekstra kurikuler sepakbola, saya sudah termasuk senior, dan lumayan diandalkan di jantung pertahanan sebelah kiri, sayang sekali, pada saat tim sepakbola kita sedang jaya-jayanya, tidak ada kompetisi yang bisa kami ikuti. Tapi saya terus bermain, bahkan hingga kuliah, dan bahkan sepak bolalah alasan utama saya berhenti kuliah di Jogja pada tahun pertama, dan memutuskan pindah ke Jakarta. Bulutangkis, saat kelas 2 SMA, saya sempat mengikuti sebuah klub pembinaan profesional yang ada di Bontang. Latihannya begitu keras, sangat keras, harus dituntut fisik yang keras. Pada awalnya saya hanya bisa bengong melihat permainan atlit bulutangkis andalan Bontang pada waktu itu, seperti di tivi. Saya latihan dan latihan, sampai pada akhirnya saya bisa mengimbangi permainannya. Disitulah puncak kesuksesan saya. Saya juga ditunjuk untuk mengurus ekskul bulutangkis di sekolah. Saya sempat berpikir untuk menjadi pemain bulutangkis saja, tapi hanya di pikiran saja, karena itu tidak akan terjadi. Menjelang ujian kenaikan kelas, saya absen sebulan supaya bisa berkonsentrasi pada ujian. Setelah selesai ujian, saya kembali berhadapan dengannya, tapi dengan absennya saya selama sebulan, itu sudah cukup untuk saya dipermalukan olehnya, saya kalah telak. Ketinggalan yang hanya sebulan itu sangat berpengaruh. Akhirnya saya mulai berhenti, karena saya mulai menginjak kelas 3.

Perempuan. Perempuan di mata saya sebagai anak SMA waktu itu belum cukup membuat saya menginginkan sebuah bentuk tali hubungan yang bernama pacaran. Yah, saya tidak pernah pacaran waktu SMA, bukan karena saya tidak bisa, tapi oleh karena saya belum begitu tertarik. Saya akan ceritakan sedikit hubungan spesial dengan beberapa cewek waktu itu, tapi kembali lagi, saya tidak pacaran.

Demi menjaga privasi masing-masing, saya tidak menyebut nama asli disini, kasian ntar yang merasa. Lebih baik disamarkan, supaya lebih puas menebak-nebak. Cewek pertama yang saya dekati, namanya sebut saja Ani. Ani ini didekati oleh beberapa teman main saya waktu itu, sehingga saya cukup terganggu dengan namanya, karena itu hampir menjadi bahasan topik setiap kita berkumpul. Karena penasaran, saya juga ikutan mendekatinya, tidak berapa lama, saya ajak jalan pada saat malam minggu, dan ternyata dia mau. Pada waktu itu, jika seorang cowok berhasil mengajak jalan seorang cewek, apalagi pada saat malam minggu, maka cowok itu bisa dinyatakan berhasil. Bahkan saya ke rumahnya dan meminta ijin langsung ke orangtuanya. Tapi setelah itu, tidak ada kelanjutan apa-apa lagi, karena saya sendiri juga tidak terlalu suka, tapi oleh karena penasaran saja. Tapi itu adalah pengalaman pertama saya mengajak seorang cewek jalan dengan saya.

Yang kedua bernama Santi. Santi ini suka sama saya, dan saya tahu itu, karena memang dia memberitahunya, dan cara dia pedekate begitu gencar, menelpon tiap hari, ngajak jalan, dan lainnya. Pada awalnya saya cukup tertarik dengan dia, tapi karena sikapnya yang begitu gencar, saya jadi sedikit mundur, karena saya pikir dia dulunya kalem, tapi sebaliknya.

Yang ketiga bernama Lili. Perbedaan usia 3 tahun waktu itu sangat jauh lho, saya kelas 3 SMA, dia kelas 3 SMP. Hubungan saya lumaya dekat pada waktu itu. Dia anggota cheerleader, pertama saya lihat saat saya bertemu dia di perbatasan SMP dan SMA. Tapi sayangnya saya berkenalan dengan dia hanya dua minggu sebelum saya ke Jogja, karena sudah lulus SMA. Akhirnya setelah saya di Jogja, kita berrhubungan jarak jauh, tapi hanya bertahan sebentar, dan hugungan itu lenyap begitu saja. Mungkin kalau saya berkenalan dengan dia lebih cepat, mungkin akan lain ceritanya.

Yang keempat bernama Indah. Sebenarnya Indah ini sahabat saya sejak kelas 2 SMA, dan sebenarnya hanya dengan dialah saya mempunyai sedikit rasa, benar-benar ada rasa suka, tapi oleh karena dia sahabat saya, saya tidak berani untuk mengungkapkan, saya takut merusak persahabatan kita Bahkan kita kuliah sama-sama di Jogja, dan kadang kita masih rutin bertemu waktu itu. Dan membutuhkan hampir 6 tahun sejak saat itu sampai saya pada akhirnya mengungkapkan perasaan saya yang sudah jauh terlambat, daripada tidak sama sekali. Saya ungkapkan kepadanya karena masih ada perasaan ‘mengganjal’ yang saya sendiri tidak tahu kenapa. Seperti ada tugas yang belum saya selesaikan sejak dulu. PR dari SMA yang belum saya kerjakan hingga kuliah, begitu mungkin istilahnya. Setelah saya ungkapkan, ternyata dia juga mempunyai perasaan yang sama, dulu. Tapi 6 tahuhn adalah waktu yang lama, kita berdua sudah move on, dia sudah punya pacar, dan saya juga harus menyadari perbedaan saya dengannya. Akhirnya sampai sekarang kita masih jadi sahabat. Setelah itu hati saya bisa terbuka kembali, dan setealh kejadian itu, tidak lama kemudian saya mempunyai seorang kekasih, pada saat saya menulis ini sekarang, ia telah menjadi calon istri saya.

Itulah segelintir cerita saya dengan beberapa cewek pada saat SMA, tidak banyak memang dibanding dengan anak-anak lainnya yang mengaku playboy, tapi saya tidak menyesal, dan mensyukuri pengalaman itu. Itu lebih dari cukup untuk mengetahui bagaimana caranya berhubungan dengan lawan jenis.

Ujian kelulusan sekolah atau UAN, atau EBTANAS pada jaman saya dulu, sangat menyita waktu anak-anak kelas 3 pada waktu itu, termasuk saya. Bimbingan belajar, pelajaran tambahan dan waktu belajar yang cukup ketat, membuat saya agak susah mengatur waktu. Tapi dengan perjuangan yang cukup keras dan doa, saya bisa lulus SMA dengan yang yang pas-pasan.

Masa SMP dan SMA adalah masa dimana saya beralih dari seorang anak kecil ingusan-anak kecil tidak ingusan-remaja ingusan-remaja tidak ingusan. Rentang waktu 6 tahun tersebut sangat memberi arti dalam perkembangan saya menjadi seorang remaja, baik psikologis dan fisik. Begitu banyak hal yang tak bisa saya jelaskan satu persatu disini, cerita diatas mungkin hanya sekitar 10 persen saja, tapi itu semua cukup mewakilkan kondisi saya selama di sekolah, dan saya begitu menikmati masa itu.  Dan seperti yang sudah saya katakan sebelumnya, saya begitu mensyukuri atas apa yang sudah saya alami di masa-masa itu. Dukungan orangtua, sahabat, kawan, guru, dan lingkungan, dan bahkan orang-orang yang tidak saya sadari secara langsung memberi pengaruh kepada kehidupan saya, saya berterimakasih atas itu semua. Masa itu sudah hampir 10 tahun berlalu, tapi jejaknya masih teringat jelas di kepala, bagaimana saya memarkir motor setiap pagi, bagaimana saya menyapa setiap teman saya, bagaimana saya bermain bola dengan teman SMA saya, bagaimana saya melempar kertas ke teman saya, bagaimana saya mengerjakan PR pagi hari di kelas, dan setiap detailnya yang terukir di rongga-rongga kehidupan saya, membuat saya sadar bahwa bekas yang terukir itu membentuk sebuah bentuk, sebuah rasa yang bernama kenangan. Kenangan indah yang tidak akan bisa saya ulangi, tidak akan saya sesali karena memang tidak ada gunanya. Kenangan yang membuat saya tersenyum setiap saya menerawang ke masa lalu, kenangan yang membercak indah membawa dan terikut serta ke kehidupan saya dia masa sekarang. Dan pada akhirnya hanya ucapan terimakasih dan ucapan syukur yang teramat sangat kepada Tuhan, yang telah memberikan jalan saya sampai pada saat sekarang saya bernafas.

Tulisan ini saya buat agar saya bisa belajar bersyukur, belajar menerima apa yang sudah terjadi, dan mengingatkan saya apa yang saya lakukan hari ini dan nanti, itu semua tidak lepas dari masa lalu saya, orang-orang yang sadar atau tidak, telah membentuk saya. Dan juga supaya saya tidak lupa, jika saja saya telah beranjak tua dan pikun, saya bisa membaca kembali kenangan saya ini.

Dan jangan remehkan setiap impian yang terlintas di kepala anda, karena impian tersebut adalah kenyataan, jika anda mau bekerja keras. Dan akan berubah menjadi mimpi belaka, jika anda memang ingin membuatnya seperti itu. Paragraf akhirnya kayaknya nggak gitu nyambung ya? Biarin.

Sekian.

Advertisements

~ by tulishapsara on August 4, 2012.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: