Jalan-Jalan ke Lombok

Image

 

Bersama istri di Holiday Resort Hotel, Senggigi-Lombok

 

 

 

Tak terasa semenjak Februari, sudah hampir 7 bulan saya tidak menulis artikel disini lagi. Cukup lama juga. Ini tulisan saya yang pertama sejak saya mendua, menjadi seorang suami maksudnya. Banyak hal yang terjadi selama 7 bulan ini, saya menikah contohnya, dan mulai bekerja lagi.

 

Terlalu panjang penjelasan saya jika saya membahas tentang persiapan pernikahan, resepsi, dan lain sebagainya. Maka pada kesempatan ini saya akan coba cerita tentang perjalanan saya dan istri pada saat honeymoon (prikitiiiiiw). Sebagai referensi, disini ada cerita sedihnya lhooo…

Pada tanggal 24 Maret 2013, tepat sehari setelah resepsi pernikahan, kami berangkat ke Lombok. Dari awal kami memang sudah memutuskan itu, supaya bias langsung lepas dari kesibukan pasca-acara, pokoknya ceritanya kabuuuuuuur, sudah cukup stress kami mempersiapkan semuanya (Kami tidak menyewa WO, tapi hanya EO, pada saat acara saja, itu juga EOnya temen istri).

Untuk paket bulan madunya sendiri istri memesan dari internet selama 4 hari 3 malam. Kami berangkat dengan sebuah maskapai ternama yang berlogo burung lambang negara kita. Kita memesan tiket sebulan sebelumnya, tapi penerbangan pagi Jakarta-Lombok sudah habis! Untungnya (Orang Indonesia, masih tetep untung) kita masih dapat pesawat siang hari, jadi kita tiba di Bandara Internasional Lombok pada waktu sore hari, sekitar jam 15:00 LT. Karena bandara tersebut baru, jadi gedung dan lahan di sekitarnya masih terlihat ‘kaku’. Setelah keluar dari bandara, kami disambut oleh berbagai macam calo yang menawarkan jasa perjalanan, kita yang sedang menunggu jemputan pun terpaksa sedikit terganggu oleh mereka yang tergolong ngotot. Padahal kita sudah menjelaskan bahwa kita sudah punya jemputan, tapi tetap saja mereka masih menawarkan. Sampai beberapa saat kemudian satu persatu mulai pergi dan tersisa hanya satu orang calo yang ngototnya setengah mati, istri saya sudah bete pada waktu itu. Dan akhirnya jemputan pun tiba. Yeeey!!!

Sebuah Kijang Innova bersama seorang supir menjemput, dan naiklah kita dalam mobil, dan bukan ke atap, karena di atap mobil memang tidak ada kursinya. Keluar area bandara saya bertanya heran ke istri, “Koq Cuma kita berdua ya, yang lainnya dijemput dimana?” Dan istri saya tertawa, karena memang ternyata paket bulan madu itu hanya berdua. “Kalo rame-rame itu bukan bulan madu namanyaaaa….!” Sayapun tertawa kecut.

Kita langsung diantar kesebuah tempat kerajinan yang searah dengan tujuan kita, Senggigi. Lokasinya sekitar setengah jam dari bandara. Disitu kita bisa melihat para penduduk membuat kain memakai peralatan tradisional, membatik, kerajinan kayu, kerajinan cangkang kerang, dan masih banyak lagi. Kita tidak membeli apa-apa, karena memang harganya agak sedikit mahal ya, walaupun ada harga berbeda untuk turis local dengan turis internasional (hampir 2 kali lipatnya ceuuu). Sekitar satu jam kita menghabiskan waktu disitu dengan melihat-lihat dan berfoto-foto ria, lalu kita melanjutkan lagi perjalanan.

Setibanya di Mataram, kami diantar kesebuah rumah makan ayam goring. Itu bukan rumah makan biasa, itu adalah rumah makan ayam goreng Taliwang yang pertama di Lombok, Ayam Goreng Taliwang tau khan? Di Jakarta juga banyak, tapi memang disitu menunya enak-enak semua, ayam gorengnya renyah dan gurih, apalagi sambelnya, mantaaap! Di meja kita saja ada 3 macam sambel dengan masing-masing rasa yang berbeda, serta tingkat kepedasan yang berbeda pula, dengan rasa yang eksotis. Tidak lupa juga pelecing kangkung, seperti cah kangkung, tapi diatasnya ditaburi kacang goreng dan sambel khas Lombok yang mak nyus, kata Pak Bondan, makanya rasanya gurih, manis, pedas, asam jadi satu. Kesimpulannya Cuma satu, puas dan kenyang! Setelah kenyang dan leha-leha sebentar, istri saya belanja kaos Lombok buat oleh-oleh tepat di pintu gerbang, dan saya langsung mengeloyor ke mobil ketika mendengar istri saya tawar-menawar dengan tega.

Setelah itu, kami langsung menuju ke Senggigi Beach, karena memang hotel tempat menginap kami ada di pesisir pantai. Dan kami pun sampai di hotel tersebut, namanya Hotel Holiday Resort Lombok, milik perusahaan Blue Bird Group. Setelah check in kami diberi welcome drink, namanya saya tidak tahu, tapi gelasnya terbuat dari buah nenas, dan minumannya terasa manis, dan asem, pokoknya segar, walaupun rasa kekenyangan setelah dari Ayam Goreng Taliwang belum hilang. Lalu kami diberi kalung bunga, dan diantar ke resort.

Reaksi pertama saya adalah terpana. Resort yang kami tempati tepat menghadap ke pesisir pantai Senggigi, dengan dilengkapi taman yang sungguh indah, pohon kelapa, rumput yang hijau, kolam renang, dan yang paling penting, Pantainya menghadap ke Barat, jadi kalau sore hari, dengan hanya membuka pintu dan nongkrong di terasnya pun kita bisa menikmati sunset yang indah (Walaupun pada saat saya bekerja, sunset dan sunrise adalah makanan saya sehari-hari). Dengan suara burung-burung yang berkicau, suara terpaan angin sore, alunan ombak yang selalu terdengar, rasanya tenang sekali, bertolak belakang dengan keadaan di kota-kota besar seperti di Jakarta. Tak usahlah dijelaskan, sudah pada tau semua tho. Resortnya sendiri seperti rumah kecil, ada ruang tamu, ranjang yang sudah dihias, serta kamar mandi yang bertemakan alam, sampai-sampai saya menemukan kodok disitu, hahaha! Surprise bagi kami, di meja ada sebuah kue tart yang bertuliskan “Happy Honeymoon”. Kamipun beristirahat sebentar, karena malam harinya kami harus berangkat makan malam.

Setelah mandi dan berpakaian, kami diantar menuju sebuah rumah makan, kali ini seafood, Menega Seafood namanya. Terletak di pesisir Senggigi, kami makan malam tepat di bibir pantai,  ditemani dengan ribuan bintang, suara ombak mengalun, sensasi gemelitik pasir di kaki, dan yang terpenting, di depan saya seorang wanita yang paling cantik sedang sibuk memakan ikan bakar dengan lahap. Berbagai macam seafood dihidangkan disitu. Setelah cukup kenyang, kami kembali ke hotel dan langsung beristirahat, karena masih cape sisa resepsi kemarennya, dan perjalanan yang cukup jauh, jet lag kayaknya (halaah). Malam itu kami bersyukur, karena hari itu sungguh luar biasa.

Tapi di tengah malamnya saya terbangun, sakit perut yang sangat hebat saya rasakan, berkali-kali harus bolak-balik menuju toilet. Dan herannya istri saya pun begitu juga. Malam itu kami berdua keracunan makanan. Mungkin karena makan malam seafood itu, memang sieh agak kurang higienis, dan mungkin juga kurang matang. Pagi itu kami langsung menelpon resepsionis untuk minta tolong dibelikan obat sakit perut. Dan salutnya, sejam kemudian resepsionis dating membawa obat, air minum, dan seorang dokter. Kami pun diobati. Saya yang parah karena sampai tidak bisa bangun dari tempat tidur. Kata Dokternya, saya sudah terinfeksi. Biarpun begitu, ada satu kejadian lucu yang terjadi saat sang dokter bercakap-cakap dengan istri saya, Dokternya bilang, “Adiknya ya mbak?” Istri saya langsung protes, entah berasa tua atau tidak terima saya dianggap masih muda, “Ini suami saya Dok, kami lagi bulan maduuu….”. Dokternya kaget, dan dalam kesakitan saya, saya diam-diam tersenyum, hehehe! Dan otomatis semua kegiatan hari itu kami batalkan, padahal jadwalnya kita akan ke Gili Trawangan untuk Scuba Diving! Kami rugi sehari gara-gara keracunan makanan…

Hari ketiga, kesehatan kami mulai membaik, walaupun belum sembuh total. Kami paksa untuk tetap melanjutkan aktivitas, rugi donk kalau tetap di kamar saja. Kita berangkat Untuk mencari oleh-oleh dulu di Mataram, istri saya membeli sebutir mutiara, iya, sebutir saja, karena harganya nggak murah. Di toko mutiara tersebut saya berkesempatan memegang, ya hanya memegang sebuah kalung mutiara yang seharga Rp. 175.000.000!!!!!! bayangin aja, kalung seharga mobil, duit segitu khan enaknya DP rumah. Eh, ini malah curhat. Setelah selesai berbelanja, kami pergi ke Pantai Kuta. Ya, di Lombok ternyata juga ada Pantai Kuta, terletak di sebelah Selatan NTB, pantai itu memiliki pasir yang sangat khas, yaitu bentuknya yang besar-besar seperti merica. Pantainya sendiri masih sepi, dan sangat indah, tak kalah dengan Senggigi, dilengkapi dengan tebing-tebing, pasirnya sendiri berwarna putih, lautnya yang sangat biru. Kami pun makan siang disana. Setelah itu kami diantar menuju tempat kerajinan tanah liat. Disitu memang tempat industrinya, jadi proses pembuatan, pembakaran, pengeringan, pengecatan, dan penjualan jadi satu. Cukup unik juga memang melihat dan mencoba sendiri cara membuat guci. Istri saya mencoba membuat satu, dan hasilnya meleot-meleot. Kami ditawarkan lagi ke tempat rumah tradisional suku Lombok, tapi kami batalkan. Karena memang kesehatan kami mulai drop lagi karena kecapekan, jadilah kami diantar sorenya langsung ke hotel. Kami habiskan waktu sore hari di pinggir pantai hotel saja, mencari kerang, yang nantinya dibuat hiasan bingkai foto untuk kenangan bulan madu, tapi sampai sekarang belum jadi. Malamnya kita langsung memanjakan diri dengan massage yang disediakan hotel, setelah itu langsung berendam di air bunga. Berdua. Asiiiiik.

Setelah segar, kami dapat jatah candle light dinner. Masih di hotel, khusus untuk bulan madu, jadi kami ditempatkan di sebuah tempat kecil, hanya satu meja saja di pinggir pantai, dilengkapi dengan lilin tentu saja, dan satu persatu makanan diantarkan, dari makanan pembuka, main course sampai dessert. Pokoknya romantis tis tis…. Itulah hari ketiga.

Hari terakhir sebenarnya nggak ada jadwal khusus, Cuma bersantai dan belanja oleh-oleh. Tapi karena kita sudah belanja, kita minta diantarkan ke Gili, yang sebenarnya dijadwalkan di hari kedua. Ke Lombok kalau nggak ke Gili itu rasanya ada yang kurang. Jadilah kita diantar kesana, tapi tidak untuk Scuba Diving, hanya Snorkeling saja. Perjalanan dari Senggigi ke Gili membutuhkan waktu satu setengah jam dengan menggunakan perahu. Gili sendiri adalah nama Pulau di lepas pantai NTB, berupa 3 gugusan pulau kecil, antara lain Gili Trawangan, Gili Meno, dan Gili Air, dengan karakter yang berbeda-beda. Pertama kami diantarkan ke Gili Meno. Pulau ini masih tergolong sepi, karena yang paling favorit khan Gili Trawangan. Saya mencoba snorkeling disitu. Ikannya banyak, bermacam-macam, tapi sayangnnya terumbunya sudah banyak yang rusak karena turis itu sendiri. Kata pemandunya, banyak orang yang masih amatir Diving, jadi sering terkena Fin (kaki katak). Kata pemandunya juga di Gili Air dan sekitarnya adalah ekosistem dari Penyu Hijau, Penyu yang sudah langka. Kalau beruntung, kita bias melihatnya berenang hilir mudik. Tapi sayangnya saya tidak melihatnya. Lalu kami nongkrong di sebuah tempat makan di Gili Meno sambil menikmati keindahan pantainya.

Setelah bosan, kami minta diantarkan ke Gili Trawangan. Gili Trawangan adalah pulau favorit bagi para wisatawan baik dalam dan luar negeri, ramai sekali. Berbagai macam hiburan dan rumah makan, serrta hotel terdapat disitu. Kalau sudah pernah ke Pantai Kuta di Bali, kira-kira seperti itulah suasananya. Turisnya sendiri hampir 90% dari mancanegara. Mereka menggunakan sepeda berkeliling, karena memang tidak ada kendaraan bermotor disitu. Pantainya putih dan landaii sekali, saya yang nggak bias liat air jernih sedikit langsung nyebur dan berenang. Istri saya menunggu di pinggir pantai sambil berjemur di tempat yang teduh (berjemur koq di tempat teduh?), kalo bule khan memang niat gosong, dan niat ke Lombok memang mencari matahari yang jarang ditemukan di negaranya, kalau kami? Sudah kenyang!

Setelah sore, kami kembali ke hotel. Perjalanan sore hari dengan perahu menuju ke Lombok ditemani dengan ombak yang cukup besar, perahu bergoyang-goyang liar, tapi istri saya bukannya mabok, malah ketawa-ketawa, sepertinya dia punya bakat jadi pelaut. Di hari itu memang kami belum fit benar, sudah 90% kira-kira.

Keesokan harinya kami dijadwalkan pulang kembali ke Jakarta. Mesikpun sakit, kami tetap menikmatinya. Tidak percuma jalan-jalan ke Lombok. Bagi kalian yang ingin berbulan madu tapi tidak mau yang ramai, Lombok bias dijadikan pilihan untuk berlibur. Orang-orang lokalnya juga ramah-ramah (kecuali calo). Dan begitulah ringkasan cerita saya. Sekarang-sekarang ini lagi ingin menabung lagi buat jalan-jalan, kali ini mungkin ke tempat pegunungan. Pengen ke tempat sang istri, Tanah Toraja.

 

05102013

H.S.A.S

 

Advertisements

~ by tulishapsara on October 5, 2013.

2 Responses to “Jalan-Jalan ke Lombok”

  1. mas maunanya ini pake jasa travel apa yah? dan biayanya berapa? saya jg berencana mo honeymoon di Lombok 🙂

    • Halo Mbak Diah,

      Mbak Diah bisa buka di http://www.lombokwisatamurah.com/lombok_wisata_paket_tour_bulan_madu_4_hari.htm
      Nama tournya disitu nggak disebutkan, tapi kalo nggak salah namanya Iwan Tour. Untuk harganya bisa dilihat di website tersebut, atau kalau Mbak ambil paket 4 hari 3 malam, seperti yang saya ambil dulu, harganya Rp. 10.500.000 dan itu belum termasuk tiket.

      Nb: Saran saya, apapun jasa travelnya, lebih baik pesan tiket dari jauh-jauh hari Mbak, terkadang sudah habis. Jadi jasa travelnya sudah deal tanggalnya, kalo nggak dapet tiket pesawatnya khan sama saja.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: