Hatsukaichi-Japan

•May 19, 2014 • Leave a Comment

Hatsukaichi adalah salah satu kota kecil di salah satu Prefektur (kecamatan) Hiroshima. Hiroshima sendiri berada di pulau terbesar dari 4 pulau utama yang ada di Jepang, Honshu. Dan Hatsukaichi ini adalah kota yang paling sering saya kunjungi dalam rangka pekerjaan saya.

image

           Hatsukaichi from Sea view.

Continue reading ‘Hatsukaichi-Japan’

Advertisements

Sunrise dan Sunset

•May 19, 2014 • Leave a Comment

Sunrise dan sunset adalah pemandangan saya setiap hari waktu kerja. “Efek samping” berdinas jaga 4-8 pagi dan sore. Dimana orang-orang kantoran yang sengaja mengambil libur untuk mendapatkan pemandangan seperti itu, saya malah sebaliknya. Melihat pemandangan seperti di bawah ini hampir setiap hari, saya tak pernah bisa tidak mengaguminya.

image

Tapi kalau hanya melihat dari foto, tidak akan ada yang tahu apakah itu sunset atau sunrise. Tapi bagi yang melihat langsung, ada perbedaan tersendiri, yaitu suasana hati. Continue reading ‘Sunrise dan Sunset’

Kelud

•February 20, 2014 • Leave a Comment

Pada tanggal 13 Februari 2014 kemaren saya dan istri menjadwalkan untuk pulang ke Batu, Malang, tempat tinggal orangtua saya. Dan sekarang disinilah saya. Dan saya cukup beruntung, dan mungkin juga bisa dikatakan sangat beruntung, kenapa begitu? Saya akan menceritakannya.

Tepat pada malam hari pada tanggal tersebut, kira-kira pukul 22:49 ketika saya sedang pulas tertidur di kamar akibat perjalanan yang saya tempuh siangnya, Gunung Kelud yang tadinya tenang, tanpa adanya tanda-tanda bahwa gunung tersebut beraktivitas, tiba-tiba ‘batuk’ dan memuntahkan abunya. ‘Jerawat bumi’ yang bernama Kelud tersebut secara geografis terletak cukup dekat dengan tempat tinggal saya sekarang, Batu. Batu sendiri terletak di sebelah Timur dari gunung tersebut dengan jarak tak sampai 70 kilometer.

Saya tidak tahu kabar tersebut setelah saya diberitahu ibu saya bahwa teras depan tertutup abu tipis akibat Gunung Kelud meletus. Dan saya baru tahu kalau ternyata Gunung Kelud itu letaknya cukup dekat dengan Batu setelah melihat televisi, dan pada akhirnya saya juga tahu itu gawat karena tak sampai 2 kilometer dari rumah, ada pos pengungsi Kelud!

Kondisi Kota Batu sendiri cukup stabil, debu yang ada cukup banyak, tapi tidak cukup banyak seperti di kota sebelah Barat Gunung Kelud, hingga kota-kota di Jawa Tengah yang tebalnya hingga 5 cm. Ini yang saya maksud keberuntungan, karena angin bertiup ke sebelah Barat, jadi, kota-kota yang terletak di sebelah Timur Gunung Kelud tidak terkena abu vulkanik.

Dan keberuntungan saya yang kedua adalah, sebagian besar bandara terpaksa ditutup pada hari tersebut karena abu vulkanik mengganggu visibilitas dan bahkan akan merusak mesin pesawat. Dan saya melakukan penerbangan tepat siang hari sebelum Gunung Kelud meletus.

Tapi keberuntungan saya ini tidak dialami oleh sebagian besar dari penduduk disekitar Kelud dan kota-kota di sebelah Barat Kelud, dan sampai tulisan ini selesai ditulis pun, posko-posko bantuan dan pengungsi pun masih ada.

Semoga bencana ini cepat selesai.

Facebook Movie

•February 18, 2014 • Leave a Comment

Kemaren saya iseng-iseng membuka akun facebook saya, yang mana saya juga cukup jarang membukanya, kecuali untuk bermain poker. Dan ternyata saya menemukan sang facebook tersebut membuat suatu film perjalanan ‘karir’ facebook saya, iseng-isengpun saya melihatnya. rupanya saya ikut terlarut dalam film pendek tersebut, cukup membuat saya bernostalgia… 🙂

https://facebook.com/lookback/

“Hajat”

•February 6, 2014 • 1 Comment

Dan saya sekarang ingin menulis uneg-uneg yang mengganjal, macam-macam isinya, dan mungkin absurd, tapi sebodo amat, ini tulisan saya, blog saya.

            Dari dulu saya suka heran dengan Bahasa Indonesia yang cukup aneh, tidak sepadan penggunaannya. Nggak ngerti? Contohnya kata “Hajat”. Saya kurang paham dengan arti sebenarnya dari kata tersebut. Kalo orang mau ke toilet dan mengucapkannya dengan halus, maka orang itu akan berkata seperti ini, “Maaf, saya mau buang hajat.” Oke, disini saya ngerti maksudnya, maka hajat itu adalah, maaf, kotoran. Naaaaaaah, masalahnya saya juga suka sering mendengar para pejabat atau petinggi-petinggi negara yang sering berkoar tentang lebih pentingnya masyarakat dibanding mereka sendiri (Tentu saja itu semua bohong, bukannya saya pesimis, tapi kalau kalimat itu benar adanya, maka kantor KPK nggak akan sebesar sekarang), kadang mereka berkata, “Keputusan ini menyangkut HAJAT hidup orang banyak…!” Ini maksudnya kotoran hidup?? Atau mereka semua menganggap kita semua kotoran? Saya suka miris kalo liat orang senang mendengar kata itu. Lalu ada lagi yang bikin saya heran adalah saya juga pernah mendengar kalimat ini, “Di kampung sebelah ada hajatan…” Mungkin maksudnya tetangga kampung dia ini sebuah septictank seluas 3 hektar, atau toilet massal…

            Ah sudahlah…

Somewhere Between

•February 6, 2014 • Leave a Comment

Hari ini tertanggal 4 Februari 2014, sehari setelah ulang tahun istri saya yang ke-26. Anywaaaay, selamat ulang tahun buat istriku tersayang, semoga selalu sehat, sayang sama keluarga dan selalu sayang sama aku tentunya… Tapi tepat di hari ulang tahunnya, saya tidak bisa ada di sisinya, karena saya harus mendapat panggilan kerja mendadak. Dan sekarang waktu saya mengetik tulisan ini, saya berada di sebuah ruang tunggu bernomor 41 di Kansai Airport Osaka, Japan, menunggu sebuah pesawat yang akan mengantarkan saya Kembali ke Jakarta – Koesplus.

            Bandara ini dengan ruang tunggu yang sama mengingatkan saya pada tahun 2010, ketika saya juga harus pulang ke Jakarta dari sini, tapi dengan kondisi sakit, seperti yang telah saya ceritakan di blog saya yang terdahulu. Dan tidak seperti dahulu, sekarang di bulan-bulan seperti ini di Jepang sedang musim dingin, dan selalu saja seperti orang Jawa pada umumnya, selalu beruntung, temperatur udara hari ini tidak separah besok, yaitu -1 derajat celcius. Padahal sekarang saja telinga saya yang jika terkena angin dingin langsung merembet ke kepala, langsung mendadak pusing, bagaimana kalau besok? Untuuuuuung…..

            Dan semoga saja saya sampai dengan selamat di Jakarta nanti…

Jalan-Jalan ke Lombok

•October 5, 2013 • 2 Comments

Image

 

Bersama istri di Holiday Resort Hotel, Senggigi-Lombok

 

 

 

Tak terasa semenjak Februari, sudah hampir 7 bulan saya tidak menulis artikel disini lagi. Cukup lama juga. Ini tulisan saya yang pertama sejak saya mendua, menjadi seorang suami maksudnya. Banyak hal yang terjadi selama 7 bulan ini, saya menikah contohnya, dan mulai bekerja lagi.

 

Terlalu panjang penjelasan saya jika saya membahas tentang persiapan pernikahan, resepsi, dan lain sebagainya. Maka pada kesempatan ini saya akan coba cerita tentang perjalanan saya dan istri pada saat honeymoon (prikitiiiiiw). Sebagai referensi, disini ada cerita sedihnya lhooo…

Pada tanggal 24 Maret 2013, tepat sehari setelah resepsi pernikahan, kami berangkat ke Lombok. Dari awal kami memang sudah memutuskan itu, supaya bias langsung lepas dari kesibukan pasca-acara, pokoknya ceritanya kabuuuuuuur, sudah cukup stress kami mempersiapkan semuanya (Kami tidak menyewa WO, tapi hanya EO, pada saat acara saja, itu juga EOnya temen istri).

Untuk paket bulan madunya sendiri istri memesan dari internet selama 4 hari 3 malam. Kami berangkat dengan sebuah maskapai ternama yang berlogo burung lambang negara kita. Kita memesan tiket sebulan sebelumnya, tapi penerbangan pagi Jakarta-Lombok sudah habis! Untungnya (Orang Indonesia, masih tetep untung) kita masih dapat pesawat siang hari, jadi kita tiba di Bandara Internasional Lombok pada waktu sore hari, sekitar jam 15:00 LT. Karena bandara tersebut baru, jadi gedung dan lahan di sekitarnya masih terlihat ‘kaku’. Setelah keluar dari bandara, kami disambut oleh berbagai macam calo yang menawarkan jasa perjalanan, kita yang sedang menunggu jemputan pun terpaksa sedikit terganggu oleh mereka yang tergolong ngotot. Padahal kita sudah menjelaskan bahwa kita sudah punya jemputan, tapi tetap saja mereka masih menawarkan. Sampai beberapa saat kemudian satu persatu mulai pergi dan tersisa hanya satu orang calo yang ngototnya setengah mati, istri saya sudah bete pada waktu itu. Dan akhirnya jemputan pun tiba. Yeeey!!!

Sebuah Kijang Innova bersama seorang supir menjemput, dan naiklah kita dalam mobil, dan bukan ke atap, karena di atap mobil memang tidak ada kursinya. Keluar area bandara saya bertanya heran ke istri, “Koq Cuma kita berdua ya, yang lainnya dijemput dimana?” Dan istri saya tertawa, karena memang ternyata paket bulan madu itu hanya berdua. “Kalo rame-rame itu bukan bulan madu namanyaaaa….!” Sayapun tertawa kecut.

Kita langsung diantar kesebuah tempat kerajinan yang searah dengan tujuan kita, Senggigi. Lokasinya sekitar setengah jam dari bandara. Continue reading ‘Jalan-Jalan ke Lombok’